BERAS CADANGAN: Ratusan ton beras yang tersimpan di gudang Bulog tidak mendapat perawatan prima sehingga mengalami kerusakan. Inzet: Beras rusak yang menjadi tepung. (KM/WAWAN AWALLUDDIN HUSNA)

150 Ton Beras Bulog Rusak

1314 views

PAMEKASAN–Sebanyak 150 ton beras yang tersimpan di gudang Bulog Sub Divre XII Madura di Pamekasan rusak berat. Beras yang dikemas setiap sak berukuran 15 kilogram (kg), hampir separuhnya menjadi tepung.

Padahal, beras tersebut sedianya akan dipakai untuk sejumlah kegiatan bantuan sosial. Namun serangan hama yang tidak mampu diantisipasi pengelola gudang membuat beras tak bisa digunakan.

Kenyataan tersebut terungkap saat anggota Komisi VI DPR RI Kholilurahman mengunjungi Kantor Bulog Sub Divre XII Madura, Senin (9/4).

Kedatangan anggota parlemen ini awalnya hanya koordinasi seputar kerja Bulog yang merupakan bidang pengawasan Komisi VI DPR RI. Namun saat mengunjungi gudang penyimpanan beras, ditemukan ratusan ton beras yang sudah rusak.

Kepala Gudang Bulog, Yuni Irianto mengatakan, sekitar beras tersebut merupakan hasil pengadaan tahun 2014 yang mengalami kerusakan.

Yuni Irianto menuturkan, saat ini tedapat sekitar 1900 ton beras untuk kebutuhan satu bulan mendatang. Namun stok tersebut termasuk kritis karena sudah tidak ada pengadaan beras lagi. “Yang rusak itu setelah dihitung sebanyak 153 ton. Kerusakannya karena diserang hama,” ungkapnya.

Parahnya, belum ditemukan cara untuk membatasi penyerangan hama tersebut, padahal untuk menjadikan satu sak beras ukuran 15 kg, cukup dalam waktu satu malam saja. Menurut Yuni, hama yang tidak terlihat kasat mata itu bekerja saat malam hari, hanya terdengar suara semacam tikus yang sedang mengerat.

Kejadian tersebut sudah berlangsung cukup lama, sebab untuk memberantas hama tersebut perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dan butuh waktu cukup lama untuk menemukan cara mengantisipasinya.

Saat ini pihaknya baru mengajukan ke Bulog Divre Jawa Timur untuk di reproses. “Kalau tidak segera ditangani memang sangat cepat sekali rusaknya, dalam semalam bisa mengubah beras jadi tepung,” imbuhnya.

Reproses yang dimaksud adalah memisahkan antara beras yang rusak dengan yang masih dalam kondisi baik melalui proses penyaringan.

Namun, dengan cara itu akan mengurangi jumlah beras secara drastis. Padahal stok beras sudah sangat menipis sementara, kini Bulog tidak membuka pengadaan beras lagi melainkan dalam bentuk Gabah.

“Jadi hanya siap disalurkan untuk bulan ini saja, karena stoknya sangat tipis. Untuk sementara dari 1900 ton beras, yang dinyatakan siap sebanyak 1.750 ton karena dikurangi 150 ton yang rusak,” tandasnya.

Sementara itu, Anggota Komisi VI DPR RI Kholilurahman menyayangkan adanya kerusakan beras dalam jumlah yang cukup besar.

Apalagi, gudang bulog mempunyai standar khusus penyimpanan beras. Masalah itu rencananya akan dibahas di Komisi VI DPR RI untuk diupayakan penyelesaiannya

“Saya juga kaget, kok bisa sampai seperti itu padahal tersimpan dalam gudang. Makanya ini akan saya bawa ke Komisi VI agar dibahas bagaimana penyelesaiannya, misal bagaimana inovasi agar membuat beras bisa lebih tahan lama,” tandasnya. (waw/h4d)

Related Search