Hukum

Bayar Rp 262 Juta, Dua Warga Kota Mojokerto Tertipu Agen Haji Plus

Mojokerto (beritajatim.com) – Sepasang suami istri, Makbul Qadar dan Dian Mujiarti menjadi korban agen haji plus yang berkantor di Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto. Warga Lingkungan Meri, Kecamatan Kranggan ini mengaku sudah membayar Rp262 juta namun hanya sampai di Mumbai, India.

Korban menuturkan, ia dan istrinya sudah menyetor uang senilai Rp262 juta kepada penyelenggara haji plus dan umroh PT Musafir Makkah Madina sejak tahun 2016 dengan keberangkatan musim haji tahun 2017 ini. “Uang sebesar Rp262 juta tersebut untuk dua orang dan pembayarannya dilakukan dalam beberapa kali,” ungkapnya, Senin (4/9/2017).

Masih kata korban, istri korban sudah mulai curiga memasuki bulan Juli lalu karena agen tersebut masih meminta uang tambahan yang besaranya bervariasi. Mulai Rp1 juta hingga puluhan juta, namun akhirnya keduanya mendapat kabar akan diberangkatkan tanggal 24 Agustus lalu.

“Kami diminta berangkat dari Surabaya ke Jakarta menggunakan pesawat dan didampingi pemilik agen Sri Juanty. Setibanya di Jakarta, menginap di Hotel Aeropolis Swiftinn, namun pemilik masih mendatangi kami dan meminta uang tambahan sekitar Rp35 juta hingga Rp40 juta,” ujarnya.

Menurut pemilik, uang tersebut untuk melunasi agen yang di Jakarta karena Sri Juanty belum melunasi biaya kepada agen yang ada di Jakarta. Pemilik mengancam jika korban tidak memberikan maka korban tidak bisa berangkat, setelah mendapat uang tersebut pemilik kembali ke Mojokerto untuk menyelesaikan administrasi.

“Kami ditinggal di hotel, namun karena hingga tanggal 27 Agustus tidak ada kejelasan akhirnya kami memutuskan untuk pulang ke Mojokerto. Tak lama, pihak agen menghubungi kami lagi dan diminta kembali berangkat dari Surabaya menuju Jakarta pada tanggal 28 Agustus 2017 lalu,” katanya.

Pesawat yang ditumpangi tersebut dari Jakarta transit di Kuala Lumpur, Malaysia dan ganti pesawat kembali menuju Riyadh, Arab Saudi. Namun pesawat tersebut masih kembali transit di Mumbay, India. Sampai di Mumbay, keduanya ditahan oleh petugas imigrasi setempat karena visa yang digunakan bukan visa haji.

“Kami tidak bisa berangkat ke Arab karena visa kami bukan visa haji tapi visa ziarah sehingga kami ditahan di Mumbay dan tanggal 30 Agustus lalu kami baru dipulangkan oleh pihak imigrasi Mumbay ke Indonesia. Kami baru sampai di Mojokerto pada Sabtu tanggal 2 September,” urainya.

Korban dan istrinya pun mendatangi kantor penyelenggara haji plus dan haji PT Musafir Makkah Madina pada Senin (4/9/2017) untuk meminta pertanggungjawab dan mengembalikan uang sebesar Rp262.250.000 tersebut. “Tapi pemilik tidak ada, hanya ada karyawan. Itupun karyawan baru,” ujarnya.

Korban berencana melaporkan penipuan berkedok penyelenggara haji plus dan umroh tersebut ke pihak kepolisian, namun pihaknya mengaku masih menunggu niat baik dari pemilik untuk mengembalikan uang mereka. Sementara itu, belum ada keterangan dari penyelenggaran haji plus dan umroh PT Musafir Makkah Madina terkait hal tersebut. “Mohon maaf, pemilik sedang tidak ada di tempat,” ujar salah satu karyawan penyelenggaraah haji plus dan umroh PT Musafir Makkah Madina.[tin/kun]

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Most Popular

To Top