KM/ILUSTRASI

Beli Takjil, Warga Diimbau Hati-Hati Berformalin!

KORANKABAR.COM (SUMENEP)-Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumenep mengimbau kepada warga yang membeli makanan untuk takjil berbuka puasa agar waspada terhadap kemungkinan penggunaan zat kimia berbahaya bagi tubuh manusia.

“Potensi pedagang makanan ringan mencampur bahan makanannya dengan bahan berbahaya ada di mana saja, tak terkecuali di Sumenep,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumenep A. Fatoni, kemarin (25/6).

Bahkan tidak hanya formalin, tapi juga zat kimia berbahaya lain seperti boraks, rhodamin-b, serta methanyl yellow, yang biasa dipakai pedagang makanan untuk takjil.

“Di daerah lain, bahan-bahan kimia seperti yang biasa dipakai,” kata Fatoni, kandungan zat kimia berbahaya seperti boraks di daerah lain itu biasanya ditemukan pada produk makanan kerupuk pelompong dan puli (kerupuk nasi), sementara formalin dan rodhamin-b terdapat pada sampel tahu dan bakso, dan methanyl yellow pada cendol.

Dijelaskan, dampak negatifnya memang tidak langsung kelihatan ketika memakan atau meminum takjil yang bercampur bahan kimia itu. Tapi ia memastikan makanan itu berbahaya bagi tubuh. “Karena itu, masyarakat harus lebih jeli dan teliti dalam membeli ataupun mengonsumsi makanan,” saran Fatoni.

Di bulan Ramadan ini, kata Fatoni, sebenarnya sudah dilakukan pemantauan terhadap makanan takjil yang berformalin itu, tepatnya di awal puasa. Tapi waktu itu belum ditemukan adanya makanan dan minuman yang bercampur bahan-bahan kimia.

Dia memastikan bahwa pemantauan ke lapangan guna mengetahui makanan takjil berbahaya akan dilakukan lagi. Kali kedua akan dilakukan pada pertengah bulan puasa.

Jika nanti ditemukan ada makanan mengandung berbahaya, dipastikan akan diberikan pembinaan. Tapi jika masih saja bandel, maka tidak hanya pembinaan yang dilakukan, tapi juga sanksi bagi penjual makanan takjil itu. “Kami tidak ingin kesehatan warga tercemar gara-gara mengonsumsi barang yang sudah dicampur bahan kimia,” pungkas Fatoni.

Sebelumnya, tokoh masyarakat Kecamatan Ganding Zainuri mengaku sering dapat laporan warga tentang maraknya mamin yang kadaluarsa. Bahkan dirinya sendiri mengaku pernah menemukan mamin kadaluarsa dan masih siap jual itu.

“Tapi kami tidak bisa berbuat banyak,” ujar Zainuri. Dan bahkan tidak hanya mamin yang ditemukan sudah kadaluarsa, tapi juga komoditi lainnya.Sebab itu, Zainuri berharap agar operasi mamin kadaluarsa itu ditambah dan dimaksimalkan. “Yang jelas, pihak terkait memiliki kewajiban untuk melakukan operasi. Kami harap, kegiatan itu ditambah,” pungkasnya.(mat/zis)

Related Search