KELUHAN : Sejumlah aktivis mendatangi kantor Badan Pelayanan Jaminan Kesehatatan (BPJS). KM/ABDUL WAHED

BPJS dan RSUD Kompak ‘Cuci Tangan’

101 views

 

KORANKABAR.COM(SAMPANG) – Keluhan demi keluhan yang dilontarkan oleh pasien ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Sampang dan Badan Pelayanan Jaminan Kesehatatan (BPJS), tak berpengaruh pada dua pusat layanan publik tersebut. Pasalnya setiap kali ada keluhan dan sorotan, mereka sudah siap dengan dalihnya masing-masing.

Sorotan terbaru datang dari Aliansi Masyarakat Peduli Pelayanan Publik (AMP3), mereka menyampaikan, selama ini pelayanan RSUD Sampang selalu dikeluhkan oleh banyak pasien BPJS. Bahkan ditengarai terdapat monopoli penentuan tempat pembelian obat di luar.

Koordinator AMP3 Iqbal Fatoni mengatakan, terdapat 2 jenis keluhan yang banyak muncul dari BPJS, yaitu dipersulit secara administratif dan kekosongan obat di RSUD Sampang.

“BPJS sudah dua kali melayangkan teguran kepada pihak RSUD, dan semoga laporan ini menjadi laporan kami yang terakhir. Sehingga ke depan pasien BPJS tidak lagi dirugikan,” katanya.

Berdasarkan penilaian AMP3, selama pasien BPJS tidak dilakukan pendampingan, maka dipastikan pasien BPJS tersebut dibuat ruwet dan akan dipastikan terjadi pembelian obat di luar apotek RSUD Sampang.

“Kami ini murni pendampingan. Dan ini, cara kami yang terbaik untuk meminimalisir terjadinya hal-hal itu. Makanya kami akan melakukan pendampingan mulai dari masuk hingga pasien itu keluar. Dan langkah kami jika tidak ada respon dari RSUD, maka kami akan laporkan ke aparat kepolisian,” tambahnya.

Sementara Kepala Kantor Layanan Operasional Keuangan (KLOP ) BPJS Kesehatan Sampang Endah Purwandadi mengatakan, berdasarkan aturan, pembayaran BPJS kepada pihak RSUD sudah dalam satu paket. Sehingga saat terdapat obat kosong, itu merupakan tanggung jawab pihak RSUD.

“Dengan laporan ini, jelas diketahui kinerja RSUD. Kami tegaskan, masalah pembayaran yang dilakukan BPJS itu sudah inklud dan sepaket sesuai laporan pihak RSUD,” katanya.

Disinggung adanya pembelian obat di luar RSUD, Endah mengatakan dengan tegas, akan menegur dan memberi peringatan tegas kepada pihak RSUD Sampang, sebab selama ini pembayaran dari BPJS ke pihak RSUD Sampang sudah tercover.

“Seharusnya pihak RSUD mengerti formulasi obat nasional (fornas), karena semua obat tidak ada perbedaan dan bahkan sama di seluruh Indonesia,” jelasnya.

Mengenai kabar adanya permintaan uang jaminan, Endah menyatakan bahwa hal semacam itu tidak dibenarkan. Sebab yang bersifat darurat, berlaku selama 3 kali 24 jam, dengan catatan pasien BPJS harus melaporkan bahwa yang bersangkutan merupakan peserta BPJS.

“Kami akan tindak lanjuti ke pihak terkait yaitu RSUD terkait adanya laporan uang jaminan itu,” imbuhnya.

Terpisah, Humas RSUD Sampang Yuliono berdalih, adanya pembelian obat di luar atas dasar permintaan pasien sendiri kepada dokter yang menanganinya. Pihaknya mengaku, selama ini, ketersediaan obat di RSUD masih cukup untuk memenuhi kebutuhan para pasien.

“Itu permintaan pasien untuk minta obat yang lebih bagus, paten dan dari luar. makanya dokternya ya ngikuti saja,” dalihnya.

Disinggung ada indikasi monopoli tempat pembelian obat di luar, Yuliono membantah dan mengaku tidak tidak sistem monopoli tempat pembelian obat diluar.

“Tidak ada itu, wong kami yang bayar itu BPJS. Kami punya obat sendiri dan itu lebih lengkap dari apotek yang di luar. Kami tegaskan, pembelian obat di luar itu murni kemauan pasien itu sendiri,” tambahnya.(awe/waw)

Related Search