Bulan Puasa sebagai Terapi Spiritual dan Kesalehan Sosial

KORANKABAR.COM-Jiwa dan raga manusisa tak ubahnya mesing waktu yang setiap detik terus berjalan dan bergerak. Tidak peduli berapa banyak bahan bakar yang telah dihabiskan. Dan pada waktu yang ditentukan semuanya akan menjadi hancur dan musnah.

Dalam sebuah literature disebutkan, mesin waktu (motorisasi) buatan jepang sekalipun akan mengalami pelemahan selama lima tahun. Sebaik apapun kualitas yang dihasilkan akan mengalami perbaikan seiring waktu yang terus berjalan. Jika mesin membututhkan rehabilitas dalam waktu tertentu, maka jiwa dan raga manusia tidaklah jauh beda dengan mesin yang membutuhkan segala kelengkapannya.

Jiwa dan raga manusia setiap hari dipergunakan dan terus berjalan seiring waktu yang tidak pernah berhenti. Mesin dengan bahan bakar akan terus berjalan, jiwa akan terus berjalan dengan segala bentuk amal, dan juga raga akan terus benjalan dengan segala bentuk makanan dan minuman.

Bulan puasa merupakan bulan yang dimana jiwa dan raga direhab. Yang semula bergerak dengan bebas, pada bulan ini semuanya diatur dengan sebaik mungkin. Amal ibadah yang terus ditingkatkan dan pola makan dan minum yang ditentukan menjadikan setabilisasi jiwa dan raga selama sebelas bulan yang dilalui. Sehingga bulan puasa mempunyai nilai keseimbangan yang berkelanjutan.

Puasa memiliki energi positif yang berdampak pada lingkungan dan masyarakat saat dan paska Ramadan. Hikmah bulan puasa tidak hanya bisa dirasakan pada saat bulan puasa. Namun, juga bisa berdampak positif paska bulan puasa. bagaimana bisa mengaplikasikan energi puasa paska bulan puasa, kalau kita tidak bisa memahami betul apa yang terkandung di dalamnya.

Ramadhan secara harfiah dibagi menjadi tiga bagian, pertama “Ra” yang berarti Rahmatan, yang kedua “Ma”, yang berarti Magfiroh, dan yang ketiga adalah “Dhi’fun” yang berarti pembebasan. Dari ketiganya mempunyai makna yang sangat luas. bulan puasa yang sering dimaknai dengan melimpahnya kebaikan dan pahalanya dilipatgandakan oleh Allah SWT, seperti pahala puasa sendiri yang mana tidak ada batasan, karena tentang pahala puasa hanya Allah SWT yang mengetahuinya.

Bulan puasa merupakan bulan yang sangat sakral bagi umat Islam. Namun, tidak sedikit yang salah mengartiakn melimpahnya pahala ibadah pada bulan puasa, bukan lagi dijadikan rehabilitasi jiwa dan raga. Amal ibadah dilakukan dengan setengah hati, hanya karena berbagai kepentingan menggalakkan amal ibadah, lebih-lebih ketika bersangkutan dengan konteks sosial masyarakat, dimana amal ibadah dilakukan bukan karena taat kepada Allah SWT, akan tetapi terselip keinginan mendapatkan pujian.

Hal itu dilakukan hanya untuk pencitraan, bukan semata mata karena ingin beribadah. Karena, bulan puasa merupakan momentum yang sangat baik dalam meningkatkan taraf kehidupan sosial.

Dengan hal itu, dan juga berbagai doktrin yang menyerukan betapa banyak jaminan bagi umat Islam yang menjalankan ibadah puasa nantinya, sebagai balasan dari ibadah puasa tersebut.

Sehingga, tampa disadari telah membentuk umat muslim yang birokratis dan kapitalis. Mereka berlomba-lomba melaksanakan ibadah hanya untuk mendapatkan pahala yang berlipat ganda, tampa menyadari bahwasanya sebagai umat Islam tidak hanya pada bulan puasa untuk tetap melaksanakan ibadah. Mereka benar-benar menjadi muslim yang birokratis dan kapitalis, bisa dilihat paska bulan puasa, mereka tidak lagi berebut dan tidak lagi berlomba melaksanakan ibadah.

Energi puasa bertujuan untuk menjadikan muslim secara kaffah, tidak setengah-setengah dalam melaksanakan ibadah. Seharusnya tetap semangat dan tetap mempunyai harapan pahala yang berlimpah meski tidak pada bulan puasa. Islam yang seutuhnya, bukan hanya melaksanakan yang ringan saja dan memiliki pahala berlipat ganda, namun semua amalan yang ada pada ajaran islam tetap harus dilaksanakan entah itu pada bulan puasa atau amal ibadah itu berat dan ringan.

Puasa memiliki dampak pada kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Bukan menciptakan muslim yang birokratis dan kapitalis, hal ini bisa dilakukan dengan memulai dari diri sendiri, sehingga berdampak pula pada masyarakat secara umum, tidak bisa nilai sosial hanya diserukan pada orang lain sedangka yang berseru tidak melaksanakan apa yang diserukan, seperti halnya berbagai doktrin agama yang memilki dampak yang kuat tentang pahala yang terdapat pada bulan puasa.

Ramadan atau puasa sebagai terapi spiritual, dimana pada bulan puasa dilimpahkan rahmat dan dilipat gandakan pahalanya, yang sebelum bulan puasa tidak ada bulan yang serupa. Dengan demikian, maka ibadah yang sebelumnya lalai dilaksanakan menjadi perlombaan bagi umat muslim. Tidak hanya perintah wajib saja yang dilaksanakan. Namun, ibadah sunnahpun ramai dilaksanakan seperti halnya shalat tarawih setiap malam.

Puasa dengan term membakar. membakar dengan artian ampunan bagi orang yang melakukan dosa sebelum bulan puasa, dengan melakukan ibadah puasa secara kaffah membakar segala bentuk dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil. Syaitan juga dibelenggu pada bulan ini, tidak ada hambatan apapun bagi umat muslim dalam melaksanakan ibadah.

Namun, pada kenyataannya masih banyak orang yang melanggar, banyak yang tidak melaksanakan puasa dan makan disiang hari, dan juga masih banyak warung setengah kaki. Semua itu terjadi karena nafsu masih ada dalam diri manusia.

Oleh: Abu Zairi, Mahasiswa STAIM Tarate, Pandian, Sumenep.

Sekarang aktif di IPNU dan Komunitas Roemah Ilmoe.

(Abuzairi7@gmail.com).

Related Search