INGIN UTANG: Muncul Aspirasi baru agar pembayaran raskin kembali seperti semula, tidak harus dibayar di awal.KM/Wawan Awalluddin Husna

Bupati Didesak Hapus Cash and Carrie Raskin

293 views

KORANKABAR.COM (PAMEKASAN)-Setelah bersusah payah menerapkan sistem cash and carrie, muncul aspirasi baru dari kepala desa (kades) yang ingin sistem itu dihapus kembali. Sistem yang mengharuskan pembayaran di awal sebelum mengambil beras warga miskin (raskin) itu, dinilai menyulitkan desa. Karena, alasan desakan dari masyarakat yang ingin raskin dibagikan sebelum hari raya Idul Fitri.

Seperti diungkapkan ketua Ikatan Kepala Desa (Ikasa) Kecamatan Pademawu Hosnan, bahwa kades bakal mengalami kesulitan untuk mempercepat panyaluran distribusi raskin sebelum hari raya Idul Fitri. Pasalnya, dengan sistem cash and carrie mengharuskan desa membayar terlebih dahulu.

Sementara, sampai saat ini anggarannya belum ada. Sehingga, belum mampu untuk membeli raskin secara langsung. Hosnan juga mengaitkan keberadaan anggaran dengan dana desa. Sampai saat ini, dana tersebut belum dicairkan. Sedianya anggaran tersebut akan digunakan untuk menebus raskin. Yang diinginkan, hanya untuk sementara, yakni menjelang penyaluran di bulan Ramadan saja.

“Kami harap Bupati bisa mengupayakan kebijakan agar pada penyaluran raskin terlaksana sebelum hari raya ini tidak perlu menggunakan sistem cash and carrie. Ini sangat menyulitkan desa, mengingat raskin sangat dibutuhkan warga miskin sebelum hari raya,” ujarnya kepada Bupati Achmad Syafii.

Sementara itu, Syafii belum bisa menanggapi secara penuh. Menurutnya, yang mempunyai kebijakan untuk menerapkan sistem cash and carrie adalah Bulog Subdivrre XII Madura. Pihaknya hanya menjadwal dan menyerahkan data warga miskin Pamekasan layak mendapatkan raskin.

“Kalau pemkab tidak punya kewenangan menentukan pakai sistem itu cash and carrie. Itu wewenang Bulog,” ujarnya.

Bupati Syafii menambahkan, sistem itu memang diterapkan untuk menghentikan aksi nakal dari desa atau pihak ketiga yang memanfaatkan lemahnya sistem untuk meraup keuntungan besar. Karena cenderung tidak melunasi tunggakan setelah beras didistribusikan. Sehingga, cash and carrie harus diterapkan dengan sungguh-sungguh.

Perusahaan logilstik itu mulai Januari 2015, menerapkan sistem cash and carrie dalam arti sesungguhnya. Sebelumnya, memang ditekankan oleh Perum Bulog dan Divre Jawa Timur agar menerapkan pembayaran di awal sebelum raskin diambil oleh desa. Namun kenyataannya, beras dari Bulog tetap dikeluarkan, sementara pihak desa menunggak pembayaran.

Hal itu yang melatarbelakagi mulai diterapkan cash and carrie dengan sungguh-sungguh. Tahun 2014 lalu, tunggakan pelunasan raskin mencapai Rp1,8 miliar dari desa ke Bulog. Awal tahun 2015 lalu, tunggakan yang berhasil tertagih hanyalah Rp400 juta, artinya masih Rp1,5 miliar yang tidak tertagih. Namun, yang terungkap hanya di tahun 2014 saja, sementara tahun-tahun sebelumnya tidak.

“Cash and carrie itu kan diterapkan karena ada masalah sebelumnya. Kalau memang penerapan ini masih mempersulit desa ya nanti saya coba koordinasikan dengan Bulog,” tandas Syafii.

Hingga berita ini diturunkan, Kepala Bulog Subdivre XII Madura Slamet Kurniawan, belum bisa dikonfirmasi mengenai munculnya aspirasi penghapusan cash and carrie. (waw/anm)

Related Search