INDUSTRI SEPAK BOLA: Achsanul Qosasi bersama CEO Repsol Josu Jon Imaz di Stadion Santiago Bernabeu, Madrid, jelang laga La Liga antara Real Madrid vs Elbar, akhir pekan lalu. Repsol merupakan salah satu sponsol klub Real Madrid. KM/Special for KM

Catatan Perjalanan Achsanul Qosasi dari Spanyol

KORANKABAR.COM – Tulisan ini Saya buat saat berada di dalam kereta api yang mengantar Saya dari Madrid menuju Barcelona. Kunjungan ke Spanyol ini merupakan yang kedua bagi Saya setelah di tahun 2007 silam saat mewakili Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) menghadiri undangan Federation Internationale de Football Association (FIFA).
Kali ini Saya datang ke tanah matador atas undangan Repsol, salah satu perusahaan minyak terbesar di dunia yang bermarkas di Madrid, ibu kota Spanyol. Negeri kerajaan di barat Eropa ini termasuk negara dengan ekonomi yang tidak terlalu bagus.
Negara yang memiliki banyak warisan bangunan bersejarah Islam ini tidak memiliki sumber daya alam yang baik. Mereka hidup dengan mengandalkan sektor jasa dan pariwisata sehingga pertumbuhan ekonomi Spanyol hanya tiga persen dengan tingkat pengangguran mencapai 20 persen dari seluruh populasi penduduknya.
Spanyol merupakan negara pengikut kebijakan-kebijakan Uni Eropa. Tanpa daya tawar yang kuat, inflasi di negeri yang dipimpin Raja Felipe VI ini menjadi sangat tinggi. Salah satu ‘penyelamat’ perekonomian Spanyol adalah sepak bola.
Sepak bola telah menggerakkan perekonomian Spanyol dengan menyumbang pajak tontonan sebesar Rp60 triliun per tahun. Jumlah ini sama besarnya dengan penerimaan cukai rokok di Indonesia.
Sepak bola menjadi magnet utama bagi rakyat Spanyol. Menurut Chief Executive Officer (CEO) Repsol Josu Jon Imaz (Repsol merupakan sponsor Real Madrid, red) yang berdiskusi dengan Saya di dalam Stadion Santiago Bernabeu saat Real Madrid berlaga melawan Elbar, mereka bangga dengan Industri sepak bola yang setiap minggu menyajikan delapan pertandingan.
Dari delapan laga sepak bola tersebut, rata-rata 35.000 orang hadir ke stadion di setiap pertandingan atau total sekitar 280 ribu penonton per minggu dari seluruh laga untuk menonton pertandingan.
Panitia pelaksana pertandingan di setiap stadion sangat pintar mengelola pertandingan menjadi sebuah entertainment sehingga penonton yang hadir ke stadion sangat puas dan terhibur. Penonton umum dan suporter tim yang berlaga datang dengan tertib dan patuh terhadap aturan pertandingan.
Penonton hadir layaknya menonton konser musik kelas atas. Mereka juga berteriak layaknya suporter Indonesia dan kadang menyanyikan lagu-lagu penyuntik semangat kepada tim kebanggaan mereka.
Di Stadion Santiago Bernabeu yang merupakan kandang raksasa sepak bola Real Madird, lagu Hala Madrid akan berkumandang saat pemain kedua tim memasuki lapangan, saat gol tercipta, dan saat pertandingan selesai.
Besok, di Barcelona Saya akan menyempatkan diri melihat Stadion Nou Camp yang menjadi kandang raksasa sepak bola Spanyol lainnya, FC Barcelona. Saya akan belajar banyak dari sana tentang tata kelola klub sepak bola profesional yang akan diadopsi untuk Madura United FC.
Insya Allah Saya kembali ke Jakarta pada Kamis (6/10) sore waktu Spanyol dan tiba Jumat (7/10) malam. Rencananya, Sabtu (8/10) pagi saya menuju Bangkalan untuk menyaksikan big match Torabika Soccer Championship antara Madura United FC melawan Persib Bandung.
Salam Madura Bersatu…!!! (*)

Related Search