Data Fiktif Dana Hibah

534 views

KORANKABAR.COM (PAMEKASAN)-Penerima dana hibah fasilitas keagamaan di Pamekasan diduga kuat salah sasaran dan tidak didukung data valid. Hal ini memunculkan keraguan di masyarakat akan realisasi dana bantuan tersebut.

Pada tahun ini, Pemkab Pamekasan melalui APBD 2015, diketahui memberi dana hibah bagi 947 musala, 232 masjid dan 144 pondok pesantren. Rinciannya, untuk musala sebesar Rp4,7 miliar, masjid Rp2,2 miliar dan lembaga pendidikan/pondok pesantren sebesar Rp4,1 miliar.

Namun, Tim Independen dari pegiat LSM dan aktivis mahasiswa setempat menemukan tidak validnya pemberian dana hibah tersebut. Sebanyak 39 lembaga pendidikan keagamaan dan tempat ibadah ditengarai tidak tepat sasaran dan bahkan terindikasi fiktif.

“Yang dimaksud fiktif di sini, tidak sesuai dengan peruntukannya, misalnya musala pribadi juga menerima bantuan. Selain itu, kami juga menemukan data ganda,” kata juru bicara tim pemantau independen dari perwakilan mahasiswa Sauki di Pamekasan, Rabu (24/6).

Temuan tersebut langsung mendapat respon dari kalangan legislatif. Mereka mengaku sudah mengingatkan eksekutif untuk melakukan verifikasi ulang kepada penerima dana hibah.

Ketua Komisi IV DPRD Pamekasan Apik mengatakan, hal itu perlu dilakukan untuk memperkecil permainan data. Sebagaimana santernya indikasi, dugaan penerima yang ternyata diketahui fiktif.

Apik juga menambahkan, pihaknya sudah sejak lama mewanti-wanti agar sebelum pencairan sudah ada cek ulang dan membuat database penerima bantuan.

Lanjut Apik, itu untuk memastikan kevalidan data dan bisa dilihat oleh publik. Akhirnya, akan diketahui lembaga yang ada dan tidak ada.

“Kami sudah pernah usulkan kepada Kesra ( Bagian Kesejahteraan Rakyat Pemkab Pamekasan) supaya diverifikasi ulang, bahkan kami sudah mengusulkan data bisa dilihat secara online,” ujar Apik.

Selain indikasi fiktif, juga ditemukan penerima hibah ganda. Dari data penerima, terdapat dua musala dengan nama dan tempat sama yang keduanya mendapat hibah. Yakni musala dengan nama Al-Harokah di Jalan Brawijaya, Pamekasan. Musala itu Al-Harokah terdata atas nama Kusairi dan Ach Qusairi sebagai pemohon.

Penerima ganda, juga terjadi antara musala dan pondok pesantren. Yakni pada lembaga pendidikan Islam Al-Marzuki nomor 8 data penerima hibah pondok pesantren dan yayasan, yang sama dengan data penerima dana hibah untuk musala di nomor 639 dalam daftar penerima.

“Dengan temuan ini, harus segera ada verifikasi ulang. Masih banyak yang membutuhkan. Kami juga sedang mengawasi, hasilnya akan kami rekomendasikan ke Pemkab Pamekasan,” tegas Apik.

Juru bicara tim pemantau independen dari perwakilan mahasiswa Sauki menjelaskan, dari jumlah total sebanyak 232 masjid penerima hibah, temuan hibah untuk masjid yang diduga fiktif itu, sebanyak tujuh masjid. Dua masjid di Kecamatan Tlanakan, empat di Kecamatan Proppo dan satu di Kecamatan Pamekasan.

Bantuan hibah pondok pesantren yang diduga fiktif juga ditemukan satu di Kecamatan Kota Pamekasan. Sementara bantuan untuk musala yang diduga fiktif, banyak ditemukan di Kecamatan Tlanakan antara lain di Desa Kramat, Desa Panglegur, Desa Larangan Tokol, Desa Branta Tinggi, Branta Pesisir Desa Tambeng, Desa Laden, Desa Dawuan.

Dikonfirmasi terpisah terkait temuan tim independen LSM dan mahasiswa, Kabag Kesra Pemkab Pamekasan Fahmi memastikan bantuan itu sudah tepat sasaran.

Ia juga menegaskan proses verifikasi sudah dilakukan kendati dengan metode sampling. Sementara soal data ganda, Fahmi mengaku jika terdapat kesalahan teknis. “Soal data ganda sudah diperbaiki, dan datanya sudah dihapus sehingga tidak ada bantuan ganda,” ujar Fahmi. (waw/h4d)

Related Search