TERBATAS: Salah satu Industri Kecil Menengah (IKM) yang terus menggeliatkan perekonomian Kabupaten Sampang. Meski demikian, dukungan dana pengembangan dinilai masih minim.KM/DOK

Daya Saing IKM Terbilang Lemah Paten Produk Meleset dari Target

KORANKABAR.COM(SAMPANG)–Hingga kini dari sekitar 4.000 Industri Kecil Menengah (IKM) di Kabupaten Sampang belum mematenkan produknya. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang melalui Dinas Perindustrian Perdagangan dan Pertambangan (Disperindagtam) Kabupaten Sampang berdalih memiliki anggaran yang sangat terbatas.

Kepala Disperindagtam Sampang Misdi yang dikonfirmasi melalui Penyuluh Perdagangan dan Perindustrian Muh Irwan Ferdiawan mengatakan bahwa untuk tahun 2016 ini pihaknya hanya bisa mematenkan IKM sebanyak 10 produk dari total produk IKM yang ada di Kabupaten Sampang.

“Untuk tahun ini produk yang sudah dipatenkan dengan label halal sebanyak 10 produk, dan itu hasil ingklut dengan Forum UKM Provinsi Jawa Timur,” katanya.

Pihaknya mengakui keterbatasan jumlah produk yang dipatenkan tersebut karena minimnya anggaran yang berikan oleh Pemkab Smpang, sehingga pihaknya mengaku kesulitan untuk produk yang paten dan tersertifikasi halal, untuk persaingan pada Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

“Dari anggaran keseluruhan dari APBD Sampang hanya sekitar Rp40.000.000, sehingga produk yang kami ajukan untuk dipatenkan juga terbatas,” tambahnya.

Namun dengan kondisi tersebut mengaku akan terus mendorong pelaku UMKM untuk melakukan sertifikasi halal pada produknya, sesuai dengan target 50 persen yang dicanangkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) untuk meningkatkan daya saing di dunia perindustrian.

Sementara itu Anggota Komisi II DPRD Sampang Shohebus Sulton mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Disperindagtam saat ini salah satu bentuk ketidak seriusannya kinerja yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Sampang.

“Kami Pemkab Sampang untuk lebih memperhatikan perkembangan sektor industri kecil sebagai penggerak perekonomian di Kabupaten Sampang, salah satunya mengalokasikan anggaran yang lebih besar kepada mitra kerja yang membidangi Industri dan lain sebagainya, itu sebagai penggerak dalam peningkatan perekonomian,” katanya

Ia juga mengatakan bahwa produk IKM yang dimiliki Kabupaten Sampang sangat melimpah namun produk yang dihasilkan masih sulit menembus pasar luar, hal itu dikarenakan belum dipatenkannya produk yang dimiliki, itu dibuktikan dengan banyak penolakan produk yang ada, padahal kualitasnya bagus.

“Kalau ini dibiarkan pada MEA ini, maka kita akan  terancam terus tergerus dan kalah dengan produk luar, seperti makanan, minuman dan kosmetik yang mudah ditemukan, karena produk mereka sudah memiliki standarisasi dan sertifikasi yang bagus,” tambahnya.

Lebih lanjut pihaknya mengatakan diperlukan adanya perombakan sistem manajemen, karena manajemen di Kabupaten Sampang masih berpatokan pada sistem tradisional dan tidak mau jika diajak melakukan sertifikasi pada produknya, padahal, harga untuk melakukan sertifikasi halal maupun PIRT cukup terjangkau, yakni untuk setiap produk dikenakan Rp2-3 juta dan sertifikasi harus diperbarui setiap dua tahun.

“selain masih tradisional, juga karena tidak adanya regulasi wajib dari pemerintah bagi pelaku usaha untuk melakukan sertifikasi halal, padahal itu penting untuk mendongkrak penjualan, salah satunya kerja sama dengan MUI maupun BP POM untuk menekan harga sertifikasi produk,” tegasnya.(awe/h4d)

Related Search