MEMBATIK: Salah satu warga Desa Klampar, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan sedang membatik.KM/TOTOK ISWANTO

Dewan Kecewa Pemasaran Batik Kian Melemah

156 views

 

KORANKABAR.COM(PAMEKASAN)-Upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan untuk mengangkat sisi perekonomian masyarakat perlu dipertanyakan. Sebab hingga saat ini belum ada kejelasan berkenaan dengan kepedulian pemerintah terhadap pengusaha batik tulis asli daerah. Akibatnya, pemasaran batik tulis khas kota yang identik dengan slogan gerbang salam kian melemah.

Kondisi ini cukup menarik rasa kekecewaan para wakil rakyat yang duduk di internal komisi II DPRD setempat. Mereka menyayangkan sikap ketidakpedulian pemerintah terhadap usaha batik tulis yang tersebar di beberapa wilayah kecamatan. Padahal, perekonomian masyarakat di bidang usaha batik tulis cukup menjajikan.

Anggota komisi II DPRD Pamekasan, Syamsuri mengaku selama ini sering menerima keluhan dari beberapa pengusaha bati asal daerah. Terutama keluhan yang disampaikan berkenaan dengan pemasaran batik yang cukup sulit. Sehingga tidak sedikit pengusaha batik tulis di daerah setempat yang mengalami kerugian hingga gulung tikar.

”Seharusnya pemerintah ini membantu para pengusaha batik tulis dari segi pemasarannya. Karena keluhan selama ini yang masuk ke kami berkenaan dengan pemasaran yang kurang optimal,” ujarnya, Kamis (17/11).

Selain bidang pemasaran, pemenuhan kualitas para pengusaha batik tulis juga perlu diperhatikan. Sebab perkembangan zaman saat ini cukup modern. Seperti munculnya batik hasil printing di Indonesia. Menurutnya munculnya jenis batik tersebut cukup menjadi saingan berat bagi pengusaha batik tulis di daerah.

”Sisi kualitas juga perlu diperhatikan. Karena perkembangan zaman saat ini makin canggih. Bila perlu dilakukan pembinaan untuk menghasilkan produksi batik yang mampu menyaingi batik luar daerah,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Paguyupan Batik Tulis Kecamatan Palenggan, Mohammad Ali mengakui jika munculnya batik printing di Indonesia mulai dirasakan dampaknya bagi kalangan pengrajin batik tulis. Sebab, batik yang bahannya dari Cina itu mulai merusak pasar batik tulis lokal.

”Batik tulis khas kalah saing dengan batik printing. Selain kalah pemasaran, harga batik printing lebih terjangkau dan murah dibandingkan dengan batik tulis yang di produksi sebagian warga daerah setempat,” pengakuannya.

Dia memaparkan harga batik printing di pasar tradisional rata-rata bervariatif. Untuk harga paling murah senilai Rp25 hingga R35 ribu. Sementara harga standar mencapai Rp60 hingga Rp70 ribu. Harga ini jauh lebih murah dari batik tulis khas daerah, yang harganya Rp50 ribu untuk klas bawah, sedangkan harga stdandar Rp150 ribu.

”Pengrajin dan pengusaha batik di daerah kesulitan proses promosi dan pemasaran. Selama ini batik tulis hanya di pasarkan di empat Kabupaten di Madura, yaitu di Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Itu pun harus bersaing dengan batik printing yang sudah menyebar luas di Madura,” keluhnya. (ito)

 

Related Search