KP/Choirul Umam Masduqi PENGASUH : KH. Hasyifuddin BELAJAR : Santri Ponpes Assuniyah Nurul Hidayah saat belajar kitab kuning Kamis (19/3). SARANA : Ruangan kelas yang ditempati siswa dalam kegiatan belajar. (F/Kabar Pesantren)

Dilempar Kotoran, Diteror Pembunuhan

1449 views

Umur Ponpes ini memang masih 12 tahun. Namun, selama proses pendiriannya, penuh tantangan dan cobaan. Pengasuh ponpes kerap diteror ancaman pembunuhan. Bahkan, awal berdirinya, rumah pendiri KH. Hasyifuddin/Yatim(50) dilempari kotoran. Tidak hanya itu, pengasuh juga sempat dilaporkan polisi lantaran sistem mengajarnya dirasa tidak wajar.

 

CHOIRUL UMAM MASDUQI, Wonoasih

Di  Jalan Salak Kelurahan Jrebeng Kidul Kecamatan Wonasih Kota Probolinggo terdapat ponpes yang bernama Assuniyah Nurul Hidayat. Ponpes ini memang terbilang baru, yakni berdiri pada tahun 2002 lalu oleh KH. Hasyifuddin atau masyarakat sekitar memanggilnya dengan sebutan KH. Yatim. Sebutan itu lantaran pendiri tersebut menjadi anak yatim ketika berada di kandungan yang masih berumur 6 bulan.

Siang itu banyak santri yang berlalu lalang melintasi jalan kecil yang memisahkan tempat pondok putra dengan kelas untuk belajar. Waktu itu memang sibuk-sibuknya santri lantaran harus mengikuti pelajaran yang sudah dijadwal oleh pondok. Tidak hanya santri putra yang bersiap masuk kelas, namun sejumlah guru yang ada di kantornya ikut menyiapkan materi pembelajaran. Seperti Miftahur Romli. “Ini siap-siap mengajar di kelas, boleh saya bantu,” kata Romli pada Kabar Probolinggo kemarin.

Setelah mengetahui maksud kedatangannya, Romli sempat menceritakan aktivitas yang berada di ponpes tersebut. Menurutnya, aktivitas pembelajaran di ponpes ini tidak berbeda dengan pembelajaran di ponpes Sidogiri Pasuruan. “Memang dari pelajaran, busana santri samaa persis di Ponpes Sidogiri,” kata Romli yang juga alumni Sidogiri tahun 2010 lalu.

Lantaran ada kewajiban mengajar, praktis Romli mengarahkan langsung ke pengasuh ponpes. Namun karena ada pendiri dan pengasuh ada kegiatan di Surabaya, praktis hanya ada anak kedua dari KH. Hasyifuddin. Dia adalah H. Muzayyanal Ulum. “Abah masih keluar, bisa saya bantu,” katanya.

Pendirian pondok ini memang bermula pada tahun 2002 lalu. Namun sebelum diresmikan 12 tahun lalu itu, jauh sebelumnya ponpes ini sudah berdiri musala untuk tempat mengaji warga sekitar. Atau dengan istilah santri mosengan.

Sejalan  waktu, ada sejumlah warga yang menitipkan anaknya untuk mengaji pada KH Yatim. Dari hal seperti ini-lah akhirnya lahirlah ponpes Assuniyah Nurul Hidayah.

Namun sebelum seperti yang sekarang, ada banyak cobaan dan tantangan oleh pengasuh. Salah satunya adalah ancaman pembunuhan, ada pendiri pondok oleh warga sekitar. Salah satu penyebabnya banyak warga yang tidak menginginkan keberadaan pondok karena dinilai mengganggu aktivitas warga di sekitarnya.

Meski pengasuh diancam dibunuh, KH Yatim bersama Almarhum istrinya  Nyai Hj Rusni Al Mukorromah tetap melanjutkan rencana pembangunan pondok ini. “Karena sudah tidak senang, jadi ada-ada saja yang dilakukan. Bahkan maaf saja sampai dilempar kotoran manusia, tapi tetap aja mendirikan pondok,” katanya.

Untungnya saat ini hal seperti itu sudah berlalu, pihaknya bersama pengurus lain lebih fokus terhadap pengembangan pesantren untuk ke depannya.

Cerita dari pendirian ponpes ini menurut H Muzay hampir sama dengan cerita Nabi Muhammad SAW untuk menyebarkan agama islam.

Dari sinilah banyak yang ia petik, salah satunya kesabaran dari pendiri yang sekaligus pengasuh pondok. Kemudian pelajaran lain dari peristiwa itu istikomah dari pendiri pondok untuk selalu Sholat Wajib, Tahajud, Dhuha secara berjamaah. “Kalau sudah rutin seperti itu pasti ada saja jalan keluar. Termasuk untuk kesulitan yang kami dapat,” katanya.

Bapak satu anak ini mengatakan dari hal sederhana seperti itu lah menjadikan salah satu pelajaran dan aktivitas yang diberikan pada santri yang ada di pondoknya tersebut. “Kami terapkan juga pada santri kami,” ungkapnya. Dengan seperti itu harapan ketika sudah berada di masyarakat tidak hanya pelajaran agam yang diterima melainkan tentang ilmu kehidupan berbangsan dan bernegara.  (tiq)

 

Tahajud dan Dhuha Berjemaah

 

Keberadaannya ponpes ini memang tidak bisa dipisahkan dari Ponpes Sidogiri Kraton Pasuruan. Pengasuh dan pendiri serta anak-anaknya merupakan alumni sidogiri. Tak heran semua aktivitas yang ada di pondok ini hampir samaa dengan ponpes sidogiri.

Seperti pembelajarannya yang tak ada pendidikan formal, atau murni salafiyah. Tentu dengan keadaan seperti sekarang menjadi tantangan bagi pengasuih ponpes. Sebab hampir seluruh ponpes yang tidak menyediakan pendidikan formal dipastikan sepi santri, bahkan cenderung mundur.

Namun tidak untuk ponpes ini, sejak 12 tahun berdiri santrinya terus bertambah. Bahkan jumlahnya secara keseluruhan mencapai 300an santri. “Pengasuh belum mengijinkan untuk mendirikan pendidikan formal. Cukup dengan pendidikan dasar dan ujian paket saja,” katanya.

Pendidikan dasar atau yang biasa disebut dengan Dikdas itu merupakan program pemerintah yang terdapat pada ponpes. Kegiatannya hanya dilakukan sekali dalam seminggu.

Ada beberapa pelajaran yang menjadikan priritas. Salah satunya santri harus bisa membaca kitab kuning. “Unggulannya pelajaran kitab kuning, tapi untuk pelajaran seperti madrasah diniyah lainnya tetap diberikan,” katanya.

Pemberian materi balajar kitab kuning itu diberikan setiap hari. Karena rutinitas itu lah, santri yang ada di ponpes ini bisa berprestasi di dalam maupun luar kota. “Baru kemarin kami dapat juara baca kitab kuning, kaligrafi dan lomba lainnya. Alhamdulillah secara perlahan kami juga berbenah,” katanya.

Tak hanya soal pelajaran, santri ponpes ini juga hampir samaa dengan aktivitas pengasuhnya. Yakni sholat tahajud dan dhuha bersama. Aktivitas seperti seakan menjadi kewajiban bagi santri untuk menumbuhkan rasa kedisiplinan dalam menjalankan perintah agama. “Kalau misalkan tidak berjamaah, sudah pasti ada sanksi dari kami,”ungkapnya.

Berkaitan dengan makan para santri, pihak mengasuh membebaskan seluruh pembiayaan santri yang berasal dari Lumajang, Jember dan Madura. “Kalau dihitung dua bulan, dapat sepeda motor baru,” tandasnya. (rul/tiq)

 

Drumband dan Hadrah

 

Di ponpes ini, pengasuh melarang adanya alat elektronik pada santri. Sama halnya di ponpes Sidogiri. Yang ada hanya buku pelajaran, kitab kuning dan sejumlah materi lainnya. Hanya saja pengasuh dan pengurus mempunyai cara tersendiri agar santri yang mondok tetap senang. Salah satunya dengan kegiatan drumband dan hadrah.

Dua kegiatan ini biasa dilakukan seminggu sekali, Untuk kegiatan hadrah biasa dilakukan setiap malam Jum’at. Saat itu mengiringi bacaan dibak atau membaca maulidul habsy.

Sedangkan untuk durmband digelar tiap selesai salat Jumat berjemaah. Itu dilakukan memanfaatkan waktu libur santri. “Alat elektronik, hp laptop dan lainnya sudah dilarang. Untuk hiburan ya drumband ini,” kata salah satu guru, Miftahur Romli. (rul/tiq)

Related Search