Bagian pembibitan diperbolehkan untuk minta ongkos pencabutan bibit kepada masyarakat yang membutuhkan ketika ada sisa saat dibagikan ke kelompok. KM/DOK.

Dishutbun Minta Ongkos Cabut

580 views

KORANKABAR.COM (SUMENEP)-Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Sumenep menargetkan hingga 6 juta bibit tembakau untuk musim tanam kemarau 2015 ini di Sumenep. Bibit tersebut sengaja disediakan oleh pemerintah yang dibagikan secara gratis. Sayangnya kendati gratis, Dishutbun justru tidak menggratiskannya kepada kelompok penangkar.

Kepala Dishutbun Sumenep Herman Poernomo beralasan ketika ada bibit yang lebih, ketika dibagikan kepada kelompok tani penangkar, maka diperbolehkan untuk menarik uang kepada masyarakat yang butuh bibit, yakni sebagai ongkos yang mencabut bibit itu dari lahan penangkaran.

Diakuinya tidak dibenarkan jika bibit tersebut diperjualbelikan kepada petani tembakau. Karena bibit tersebut pada dasarnya memang sudah sengaja disediakan oleh pemerintah agar dibagikan secara gratis kepada petani tembakau.

Pasti Rugi, Sebagian Petani Enggan Tanam ‘Emas hijau’

“Kami sudah minta kepada kelompok penangkar agar tidak memperjual belikan, hanya saja kelompok penangkar mengutamakan anggota kelompoknya. Jika ada nanti ada bibit yang masih tersisa, kalau ada masyarakat atau kelompok lain yang butuh, dipersilakan untuk mengambil dengan mengganti ongkos mencabut tersebut, itu tidak beli,” ujarnya.

Soal antisipasi atau pengawasan dijualnya bibit tembakau gratis oleh penangkar, Ipung sapaan akrab Herman Poernomo menjelaskan jika pihaknya sudah ada antisipasi dan sudah mewanti-wanti sejak awal agar bibit itu tidak dijualbelikan.

“Di setiap kelompok tani yang menangkar bibit tembakau, sebenarnya kita sudah ada UPT. Sehingga tidak akan dijualbelikan, jika ada lebihnya setelah dibagikan kepada anggota kelompok tani, tidak apa-apa ada biaya mencabutnya,” katanya.

Soal kualitas bibit, ditegaskan Ipung kualitasnya sudah sangat bagus. Karena pihaknya menggunakan bibit yang rendah nikotin, sehingga bibit tembakau yang ditangkar oleh kelompok tani melalui Dishutbun sudah mempunyai kualitas bagus.

“Bibit rendah nikotin itu diharapkan menjadi tembakau yang baik di Sumenep, karena kami mengutamakan kualitas yang baik. Itu bibit yang berkualitas, yakni kualitas dari tembakau Prancak,” imbuhnya.

Sementara itu, anggaran pembibitan tembakau perkelompok tani Rp15 juta. Sementara kelompok tani yang mendapatkan penguatan modal pembibitan tembakau adalah 240 kelompok tani, maka jumlah anggaran untuk pembibitan tembakau sekitar Rp3 miliar. (ong/zis)

Related Search