Facebook dan Penderitaan

1179 views

HabibullahIndonesia adalah salah satu masyarakat pengguna facebook terbanyak di dunia. Nyaris setiap warga di Indonesia ini memakai facebook. Dalam kacamata undang-undang, memakai facebook adalah boleh, tidak seperti narkoba, walaupun karena keasikannya banyak orang ketagihan terhadap facebok dan kadang sakau jika sehari saja tidak membuka ‘mahluk’ ciptaan Markn Zuckerberg, pemuda paling tajir sedunia yang di katepenya berstatus penganut Yahudi.
Sebagian Bahstul Masail pernah mengharamkan facebook. Keharaman itu bukan karena facebook adalah karya orang Yahudi. Melainkan disebabkan beragam kejahatan sosial yang dilancarkan via facebook. Misalnya, perselingkuhan, penculikan dan keretakan rumah tangga yang pernah terjadi akibat pemakaian fecebook. Menimbang antara mafsadat dan maslahat, sebagian Bahstul Masail menetapkan facebook lebih banyak mafsadatnya. Mirip khamr atau miras. Istmuhuma akbaru min naf’ihima. Bahayanya lebih banyak daripada manfaatnya. Seperti hukum miras, facebook juga haram dikonsumsi.
Yasmin Mogahead, penulis asal Amerika, dengan menggunakan analisa sufistik dan psikologis, menyimpulkan bahwa facebook adalah sumber penderitaan. Kesimpulan ini tentu berangkat dari kerangka pemikiran yang tidak asal-asalan. Pembahasan tentang facebook dibahas secara khusus dalam bukunya yang berjudul Reclaim Your Heart (Rebut Kembali Hatimu. Diterbitkan Zaman, 2014). Buku ini secara keseluruhan mengupas tentang hal-hal yang kita alami dan lalui setiap hari. Yang kita anggap normal. Menyenangkan dan membahagiakan. Ternyata, merupakan sumber penderitaan. Facebook masuk diantaranya.
Orang menganggap facebook sebagai hal normal. Bahkan dipandang positif karena bisa melakukan silaturahmi, ajang diskusi, media menyebarkan berita penting, pencitraan, promosi dan beragam hal lainnya. Sekilas tidak kelihatan bagian yang menjadi sumber penderitaan. Jika dibedah lebih dalam, kata Yasmin, akan terlihat celah busuknya. Ia terletak pada ‘pembesaran’ keberadaan diri.
Dengan kata lain, facebook menciptakan ego sentris. Menciptakan keyakinan bahwa diri ini penting. Melahirkan paradigma bahwa diri ini patut dipuji dan diperhatikan. Setiap foto yang kita pajang, komentar yang kita posting, terselip tuntutan untuk dilihat, disukai, dipuji dan dikomentari orang lain.
Sebelum ada facebook (Twitter juga), ego orang tidak begitu besar karena tidak ada media yang bisa membesarkannya. Andaikat kebelet pujian dan perhatian, orang sulit mencari lokus. Kalau beruntung, hanya menemukan satu dua orang yang bisa memenuhi harapannya. Itupun jarang sekali terjadi. Setelah facebook lahir, begitu mudahnya orang mendapatkan pujian, ratusan perhatian, berkali-kali dalam sehari.
Masalahnya, orang yang kita harapkan belum tentu sesuai dengan keinginan kita. Yang kita harapkan adalah mahluk yang nisbi dan rapuh. Kita berpegang pada hal rapuh.. Pada satu waktu, kita akan merasakan kecewa tatkala tidak ada orang yang memuji dan memperhatikan kita. Padahal kita sudah super selektif memajang foto yang dijadikan profile, berfikir keras menulis status terbaru. Saat itu kita layaknya – istilah teman-teman – museum tanpa pengunjung.
Ego kita yang sudah sedemikian besar dan menguasai seluruh lini diri kita sebenarnya sumber utama penderitaan itu sendiri. Selama ego itu masih bersemayam, maka ketergantungan kita masih sebatas pada pemenuhan keinginan nafsu yang pada dasarnya semakin menjauhkan dari kebahagiaan. Ingin dipuji, ingin kelihatan hebat, terlihat mewah, terlihat bahagia adalah bagian nafsu egosentris yang pemenuhannya tergantung pada orang lain. Padahal, sekali lagi, orang lain tidak bisa memenuhi semua keinginan tersebut. Andaikata terpenuhi, justru ego kita makin melambung dan segera menuntut lagi dan lagi, hingga tidak terbatas. Hingga semakin tidak bisa dipenuhi. Hingga semakin menderita.
Tidak ada media efektif yang bisa menciptakan kondisi demikian selain media sosial semacam facebook. Kaum sufi dulu memilih uzlah agar terhindar dari manusia. Agar standar hidupnya tidak tergantung kepada manusia. Agar egonya tidak tumbuh akaibat pujian-pujian mereka. Harapan-harapan kepada mereka sebagai mahluk lemah tidak lahir. Harapan hanya kepada Allah. Pujian hanya dari Allah. Biasanya uzlah dilakukan di tempat sunyi yang sekiranya tidak bertemu orang lain.
Saat sekarang, dengan facebook, gua pun terasa ramai. Di kamar pribadi, kita bisa bertemu dengan ratusan orang dan berbincang dengan mereka. Tidak ada tempat sunyi saat ini. Kesunyian hanya bisa diciptakan ketika kita putus hubungan dengan facebook. Itulah satu-satunya cara untuk mengecilkan ego kita, merebut lagi hati kita yang melekat pada orang-orang, dan membangun kebahagiaan intrinsik dengan hanya menggantungkan segenap isi hati kita kepada Allah.

Oleh: Habibullah Salman <habibullah_salman@yahoo.com>

Related Search