DEVIDE ET IMPERA: Tidak menutup kemungkinan kasus semacam ini merupakan setingan asing yang sengaja memancing di air keruh. Kita harus waspada dan tetap memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa. (KM/IST)

Hantu PKI Gentayangan di Madura

1901 views

KORANKABAR.COM (SUMENEP) – Pasca reformasi, gerakan anak-anak muda terutama kalangan aktivis mahasiswa, ormas, maupun LSM terasa cukup leluasa untuk berekspresi mengarah ke kiri-kirian. Yang menggemparkan, tokoh-tokoh PKI, dedengkot penganut paham kiri, ‘bangkit’ kembali di Pamekasan, pada perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-70. Padahal, puluhan tahun lamanya Bangsa Indonesia sangat mengharamkan paham kiri.

TIM KABAR MADURA SUMENEP

MUNCULNYA atribut Partai Komunis Indonesia (PKI) di Bumi Gerbang Salam pada perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-70, begitu menyita perhatian sejumlah pihak. Ditambah lagi simbol-sombol PKI itu justru diusung para pelajar sekolah negeri yang menggelar karnaval perayaan HUT Kemerdekaan RI.

Ketika diminta komentarnya tentang peristiwa menghebohkan di Bumi Gerbang Salam, Pamekasan, beberapa waktu lalu itu, K. Dardiri Zubairi tidak segera bersuara. Dia terdiam beberapa saat. Tampak dia berupaya mengatur pemikirannya dengan seksama  sebelum mengeluarkan pendapat.

Sejurus kemudian tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) Sumenep itu bertutur dengan pelan-pelan. Dalam penuturannya, dia meminta semua pihak sebaiknya hati-hati dalam merespon kasus munculnya ‘renaissance‘ PKI di Madura (Pamekasan), dan beberapa daerah lain di Jawa Timur.

Dalam penuturannya itu pula, Dardiri juga meminta jangan terlalu berlebihan dalam merespon isu tersebut. Yang penting mewaspadai secara wajar, karena bisa jadi, itu semua adalah bagian dari kerja intelijen asing dalam rangka mengobrak-abrik situasi dan kondisi dalam negeri Indonesia yang sudah relatif kondusif pasca runtuhnya Orde Baru.

“Itu harus ditempatkan pada kerangka yang lebih luas bahwa bisa saja ada upaya asing memperkeruh situasi politik di Indonesia. Kalau NKRI menjadi negara kuat dan besar akan menjadi ancaman bagi asing. Makanya cara apapun digunakan termasuk menghidupkan kembali ideologi yang sebenarnya sudah selesai,” ujar Dardiri.

Mantan Ketua Lakpesdam NU Sumenep, itu menilai bahwa kasus munculnya ikon-ikon komunisme yang terjadi di Madura dan di Jember, bukan berdiri sendiri tapi berhubungan erat. Dalam penilaiannya, ada kelompok yang sengaja mendesain di balik layar untuk memunculkan isu PKI bangkit lagi di mana-mana di wilayah NKRI.

“Yang harus dibaca, orang yang memainkan isu. Paham itu bisa saja berkembang lagi, khususnya bagi kelompok muda yang tidak tahu sejarah PKI karena cara ideologis ‘kiri’,” jabar Dardiri.

Tangkal dengan Aswaja

Akar pemikiran komunismen yang dipengaruhi Karl Marx lewat ideologi kiri-nya, itu relatif kuat melawan kapitalisme. Dan saat ini menurut Dardiri sangat digandrungi oleh pemuda yang masuk di gerakan kiri. Khususnya mahasiswa yang pemikirannya cenderung Marxisme.

Tapi hal itu, sambung Dardiri, tidak akan besar selama pihak terkait memperkuat ideologi Pancasila dan NKRI. Tapi jika tidak diawasi bisa saja tumbuh besar.

Solusi dari tokoh NU, menurut Dardiri, kalau di Madura bisa dilakukan penanaman ideologi Ahlussunah Wal Jama’ah (Aswaja) dan NKRI di banyak pesantren, sekolah-sekolah umum dan perguruan tinggi. Karena itu cara yang paling efektif untuk bisa mengimbangi cara pikir Marxis yang sengaja diciptakan kelompok tertentu.

“Kerja intelijen Indonesia juga harus lebih rapi. Ketika muncul kasus disikapi secara serius. Jangan hanya dipanggil (pelaku-pelaku di laangan), tapi tidak bisa dilacak siapa aktor intelektualnya,” harap Dardiri.

Polisi Antisipatif

Kapolres Sumenep, AKBP Rendra Radita Dewayana, melalu Humas Polres Sumenep, AKP Hasanuddin juga tampak berhati-hati dalam mengomentari kasus tersebut. Walaupun dia akui, banyak pihak yang menyoroti serta bertanya-tanya tentang latar belakang munculnya simbol-simbol PKI perayaan HUT Kemerdekaan RI itu.

Hasanuddin berujar, munculnya atribut PKI sangat patut disayangkan, meskipun tujuannya untuk hal-hal tertentu, seperti untuk menampilkan kekejaman PKI. Karena, penilaian masyarakat sangat beragam. Tapi dikhawatirkan pula, kasus tersebut merupakan pertanda bahwa masih bercokolnya ideologi atau penganut komunisme di Bumi Pertiwi.

“Keberadaan atribut itu sebenarnya pantas juga dipertanyakan, ditakutkan munculnya atribut karena ada unsur kesengajaan dan ingin menunjukkan pemahaman komunisme. Meskipun awalnya ingin menampilkan keberadaan PKI dan kekejamannya kepada masyarakat, sebenarnya harus dipertimbangkan,” ujarnya kepada Kabar Madura.

Sementara di Bumi Sumekar, lanjut Hasan, panggilan akrab Hasanuddin, berdasarkan pantauan pihak Polres Sumenep sejauh ini, masih belum ada tanda-tanda masyarakat yang menunjukkan menganut ideologi komunisme, termasuk kalangan muda.

Jika pun ada yang menganut paham komunis, baik kalangan tua dan apalagi kalangan muda, pihaknya akan bertindak tegas untuk segera menindaklanjuti hal itu. Sebab jika tidak dibiarkan, bukan tidak mungkin paham komunis itu bisa menyebar luas.

“Tapi sejauh ini masih belum ada. Kalau nanti kami mencium paham-paham komunis dan itu ada di Sumenep, jelas kami tidak akan berdiam diri, secepatnya kita tindaklanjuti. Sementara antisipasi-antisipasi sudah kami lakukan,” tandasnya. (yoe)

Related Search