Achmad Fauzi (Wabup)

Hijrah dari ‘Nafsu’

128 views

Oleh Achmad Fauzi

Dalam diri manusia itu ada sesuatu yang lebih jahat dari “iblis”. Apa itu? Tentu kita semua sudah tahu, yaitu “Nafsu”. Iya, dari saking jahatnya, agama kita kerap kali mengingatkan bahwa salah satu bentuk jihad yang paling jelas adalah jihad An-nafs.

Tentu kita masih ingat sabda Rasul saat kembali dari peperangan. Ia berkata kepada para sahabatnya, bahwa “Kita kembali dari perang yang kecil (al-jihad al-ashghar) kepada jihad yang besar (al-jihad al-akbar).

Kemudian, tanpa banyak pikir, para sahabat bertanya, “Apa jihad besar itu?” Nabi menjawab,”Yaitu jihad memerangi nafsu”.

Pertanyaan sederhana yang layak dimunculkan adalah kenapa memerangi hawa nafsu disebut jihad yang besar?

Jawabannya karena musuh yang diperangi itu tidak terang-terangan, ia tersembunyi di dalam diri manusia. Ia serupa keinginan yang memberikan kesenangan kepada jasmani seperti mata, telinga, seksual, pikiran dan juga kepada hati.

Al-Qur’an (Yusuf [12] : 53) sampai menyebutkan bahwa “Sesungguhnya nafsu manusia adalah pendorong kepada kejahatan…”. Ada dua nafsu yang membuat manusia lebih bejat dari iblis, yaitu nafs al-ammarah dan al-lawwamah. Dua nafsu ini yang menggiring pada perbuatan negatif. Jika nafsu ini mampu menggerogoti dan menguasai diri, manusia akan menjadi sumber kemaksiatan.

Kecuali nafsu al-Muthmainnah. Nafsu yang mengajak kepada ketenangan dan kedamaian ini mampu meninggikan derajat manusia. Sebab nafsu model ini terlihat tenang dalam segala hal.

Oleh karena itulah, momentum 1 muharram atau hijriah tahun ini adalah saatnya bagi saya dan kita semua untuk berhijrah dari nafsu yang negatif kepada nafsu yang positif. Memang tidak mudah, sebab nafsu itu dekat dengan keinginan-keinginan manusia yang cenderung disukai. Ada keinginan-keinginan yang disukai oleh mata, keinginan yang disukai telinga, perut, pikiran, jiawa hingga seksualitasnya. Perumpamaan nafsu itu semisal seperti kuda yang binal, ia pasti sulit dikendalikan. Manakala keinginan nafsu tidak dikendalikan, ia mendorong berbuat segala sesuatu yang menjerumuskan dan mendatangkan kerusakan pada diri manusia itu sendiri.

Bukankah sudah banyak peristiwa menyedihkan karena nafsu; rela menipu, membunuh, mencuri merampok, hingga korupsi. Bahkan memerkosa. Tak usah jauh-jauh, seberapa banyak kita berkata jujur pada orang, minimal pada diri sendiri. Mungkin saat inilah waktu yang tepat bagi kita semua untuk menziarahi diri untuk hidup yang lebih berarti. Wallahu A’lam. (*)

 

Related Search