IPAL RSUD Belum Memenuhi Standar Dasar

472 views

KORANKABAR.COM (SAMPANG) – Pengelohan limbah cair dari bekas penggunaan RSUD disinyalir tidak dikelola melalui Instalasi Penggunaan Air Limbah (IPAL). Itu terjadi, setelah IPAL milik RSUD Sampang diketahui rusak sejak beberapa tahun lalu. Kondisi itu, menjadi tudingan miring jika RSUD Sampang menjadi salah satu RSUD milik Pemkab di Madura yang diduga kuat tidak memenuhi Standart Dasar Pelaksanaan Penyehatan Lingkungan Rumah Sakit.

Standart Dasar  pelayanan rumah sakit tersebut, dengan tegas diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 1204/MENKES/SK/X/2004 Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit.

Dirut RSUD Sampang, dr Titin Hamida, menyampaikan, sejauh ini pengolahan limbah padat di RSUD Sampang secara umum tidak ada masalah, sebab telah dikelola melalui pihak ketiga yang selama ini dijadikan partner kerja pihak RSUD. Namun demikian ia belum bisa menyebutkan identitas pihak ketiga yang dipercaya mengolah limbah padat itu.

“Untuk limbah medis yang berbentuk padat tidak ada masalah, karena telah diproses melalui prosedur oleh pihak ketiga,” katanya saat dikonfirmasi Kabar Madura (8/9)

Sementara untuk pengolahan limbah medis cair, lanjut dr Titin, masih akan dilakukan proses revitalisasi pada awal tahun 2016 mendatang. Sebab IPAL untuk limbah cair belum dikelola sesuai standart. Terlebih alat pengolahan limbah tersebut diketahui rusak sejak beberapa tahun lalu.

“Sementara ini memang ditampung melalui Septic Tank, karena alat yang ada sebelumnya rusak setelah terendam banjir,” akunya

Lebih jauh, Ia mengaku, bahwa persoalan pengolahan limbah medis cair akan dijadikan sebagai skala prioritas ditahun berikutnya yang akan dibenahioleh pihak RSUD. “intinya persoalan limbah medis akan kami prioritaskan ditahun berikutnya, sebab harus dilakukan secara bertahap,” akunya

Asisten III Pemkab Sampang, Rohim Mawardi, yang dikonfirmasi secara terpisah juga mengakui terkait persoalan tersebut, menurutnya jaringan pipa limbah medis cair yang ada saat ini tidak berfungsi karena terbentur dengan keberadan bangunan gedung yang terlanjur dibangun disejumlah titik.

Lebih jauh, lelaki yang akrab disapa Rohim, mengakui bukan hanya persoalan kerusakan, naun juga terdapat hambatan keluarnya izin pendirian Ipal dari Kementrian Kesehatan karena persoalan administrasi. Diakuinya, proses keluarnya izin tersebut membutuhkan waktu jangka panjang.

“Kami tengah berupaya untuk melakukan pembenahan dalam soal pengolahan limbah medis cair, hanya saja memang prosesnya tidak mudah,” tandasnya

Disinggung soal ancaman pengolahan limbah yang tidak maksimal, Rohim mengakui jika kondisi tersebut akan menjadi ancaman kesehatan bagi RSUD dan juga warga sekitar RSUD, sebab secara tidak langsung lebih madis tersebut bisa mencemari mata air sumur yang digunakan oleh warga sekitar. Oleh sebab itu pihaknya mengaku akan mengkoordinasikan kondisi tersebut dengan pihak Badan Lingkungan Hidup (BLH) guna memastikan keamanan lingkungan.

Sebelumnya, pengolahan limbah yang diduga tidak dikelola dengan baik juga mendapat tudingan miring darisejumlah pihak yang mengatasnamakan Angkatan Muda Progresif Sampang (Ampos).

Mereka mempertanyakan pengelolaan limbah medis milik RSUD itu, karena mereka menduga limbah medis milik RSUD Sampang tidak dikelola sebagimana mestinya. Sebab mesin incimenator atau mesin pengolah limbah tersebut diketahui rusak dan tidak dimanfaatkan sejak beberapa tahun lalu.

“Kami juga merasa heran, kenapa sekelas RSUD Sampang tidak mengolah limbah itu secara benar, bahkan banyak indikasi yang mengarah kepada tindakan pengelolaan yang melanggar aturan,” kata koordinator Ampos Moh Jalil.

Catatan Kabar Madura, RSUD Sampang memiliki IPAL baik untuk limbah medis cair maupun padat. Salah satunya incinerator, yang merupakan alat pengolah sampah medis padat berupa bekas jarum suntik, bekas infus dan semacamnya dengan cara pembakaran. namun sayangnya alat itu sama sekali tidak difungsikan.

Atas kondisi itu, ditahun 2014 lalu tepatnya pada bulan september, Satreskrim Polres Sampang memeriksa petugas IPAL RSUD Sampang karena diduga tidak mengelola IPAL dengan baik dan benar sehingga dikhawatirkan membahayakan warga sekitar.

Usai melakukan pemeriksaan, polres langsung mengambil sampel limbah RSUD. Sampel itu akan dijadikan bukti penguat pengelolaan (IPAL) apakah sesuai ketentuan atau tidak. Pengambilan sampel itu untuk memperkuat perkara kasus dugaan pencemaran lingkungan hidup di lingkungan RSUD.Bahkan persoalan tersebut kini disebut sebut menjadi atensi polda Jatim. (sam/bri)

Related Search