Katakan Tidak Pada ‘Malu’

139 views

KORANKABAR.COM(SUMENEP)Berpuluh tahun silam, salah satu grup seni tradisional asli Sumenep terangkat ke Dunia. Namanya Dhalang Sabidin. Ia sampai pentas keliling di Prancis dan Belgia. Permainannya menimbulkan emosi, seolah mengalahkan permainan Louis Jouvet atau Gerrad Philippe.

Saat itu, kita semua meneteskan air mata rasa bangga, karena kesenian kita ternyata juga bisa unjuk gigi. Sejak itu, mental orang Madura terangkat, seolah kesan minor tentang carok, keras, dan tertutup hilang begitu saja. Harkat dan martabat kita pun juga berada di titik “180” derajat.

Tapi itu tahun 1982, setelah itu tak ada lagi, semuanya lekang oleh waktu dan lapuk oleh hujan. Kita kembali lagi ke titik nol; gengsi, malu dan kurang PD ketika berpapasan dengan orang luar.

Kehadiran Inbox SCTV ke kota Sumekar bertujuan untuk mengangkat kembali ketidak-PD-an kita sebagai orang Madura (wakil khusus Sumenep). Memang, kehadirannya di ujung timur pulau Madura itu mengundang perhatian banyak orang. Ada yang mencaci, ada pula yang memuji.

Ada yang mencerca, juga ada yang membela. Itu tentu wajar. Karena pada setiap perubahan selalu terjal dan penuh liku-liku. Bagi yang mencaci atau mencerca serupa “nasionalisme” guna menjaga Sumenep dari budaya-budaya kurang santun yang datang dari luar.

Saya yakin mereka ingin menjaga marwah warisan para raja dan pejuang Sumenep tempo dulu. Bukankah cacian dan cercaan itu merupakan masukan tidak langsung? Maka saya semakin yakin, tidak ada upaya untuk menjatuhkan, apalagi membuat jelek Sumenep tercinta di mata publik.

Bagi yang memuji dan membela mungkin juga bukan karena mereka sok lebay atau berlebih-lebihan. Mereka memuji dan membela karena kita semua juga tentu sudah paham, selama ini, khazanah yang kita miliki berjalan di tempat, kurang dilirik dan menjadi mubazir. Sehingga perlu dipromosikan. Sumenep yang kaya dengan budaya dan wisata sungguh miris karena belum juga dilirik. Maka kehadiran Inbox SCTV ke kota Sumekar merupakan momentum mengenalkan kekayaan yang ada, pula untuk mengangkat mental kita sempat mendidih.

Mari kita mencoba berpikir lebih “jernih”, kehadiran Inbox bukan semata-mata hiburan, tetapi sebagai media untuk mengenalkan kekayaan Sumenep ke publik. Sangat disayangkan, khazanah kebudayaan dan pariwisata kita banyak, tetapi tak mampu menjadi magnet. Bukan tidak eksotis dan tak diminati, tetapi karena minim sosialiasi. Seperti Bali, Jogja, Banyuangi, Bandung, Malang, Jember, dll., terkenal karena dipromosikan secara baik. Selama dua hari, artis-artis ibu kota itu tidak hanya datang untuk menghibur, tetapi juga membantu mempromosikan kekayaan kita. Selama dua hari pula, beberapa gambar dan video potensi yang kita miliki diperlihatkan dan dipertontonkan secara langsung.

Sebagai bagian dari warga Sumenep, saya hanya mencoba berpikir tentang “surga-surga” kecil yang terbentang indah di segala penjuru. Lihatlah surga itu, kita punya khazanah kebudayaan yang khas dan unik. Kita juga punya banyak potensi wisata. Ada religi, kuliner, wisata sejarah hingga wisata bahari.

Pertanyaan sederhana, kenapa belum dikenal oleh banyak orang? Karena surga-surga itu hanya “tersembunyi”, tapi tak ada promosi. Masyarakat kita belum sepenuhnya mencintai. Padahal, kemajuan suatu daerah tidak lepas dari dukungan masyarakat.

Lagi-lagi saya tegaskan, hadirnya Inbox SCTV ke Sumenep sejatinya tak ada tujuan lain kecuali mengajak masyarakat untuk mencintai Sumenep seutuhnya. Masyarakat harus menikmati daerahnya dengan suka cita, ria dan bahagia. Kita baru saja merayakan Hari Jadi Sumenep yang ke 747, tentu menjadi momentum untuk mengajak rakyat untuk merasa memiliki daerahnya sendiri.

Sebab sebuah negara tidak boleh biarkan hanya diperah untuk kepentingan ekonomi dan asap pabrik semata, tetapi jadikan negara itu sebagai rumah yang damai, tenang dan membahagiakan. Tidak ada gunanya negara kaya dan bergelimang harta jika tidak bahagia dan damai. Sekadar menyebut contoh. Ada sebuah negara di Asia, negaranya maju dan kaya, namun, mayoritas masyarakatnya ingin pindah dari kotanya. Itu menandakan bahwa rumah yang mereka tempati itu tidak membahagian, tidak menghadirkan cinta.

Oleh karena itu, boleh saja ekonomi kita berkembang pesat, infrastruktur mengkilap, bangunan-bangunan terlihat megah, transportasi berjalan dengan baik, hingga mampu menekan macet. Tentu itu cukup menggemberikan dan menjadi bukti bahwa sebuah negara atau pemerintahan berfungsi. Tapi ingat, selain harus berfungsi, negara juga harus dicintai. Sebab berfungsi saja tidak cukup, maka perlu dicintai. Kita tidak mau seperti kisah sebuah negara di Asia yang malah ditinggalkan oleh rakyatnya gara-gara negara hanya diperah secara ekonomi saja. Tapi cinta dan dan kedamaian tak pernah didapatkan oleh rakyat.

Maka terlepas dari pro dan kontra, kehadiran Inbox SCTV jika diartikan dari sisi positif akan berdampak ganda terhadap kemajuan Sumenep ke depan. Mendukung program Menuju Visit Sumenep Year 2018, juga sebentuk cinta untuk rakyat Sumenep. Saya merasa sangat terharu ketika melihat senyum warga saat menikmatinya, berpose bareng dengan para artis, menikmati sajian gambar dan video Gili Labak, Gili Iyang, Lombang, Slopeng, Asta Tinggi, Meseum dan beberapa kekayaan lainnya, hingga mereka mengaku bangga, khazanah kita bisa menasional. Bahkan euforia warga bisa kita lihat di rumah-rumah. Nyaris semua channel TV menonton tayangan Inbox. Ah, saya yakin, kita bisa melebihi Banyuangi, Bandung, Bali, Jogja maupun Jember. Sebab apa yang kita miliki hari ini layak memiliki daya tawar di mata orang luar. Maka, saatnya “Katakan Tidak Pada Malu”.  Sebab kita sudah punya jawaban untuk menjawab kesan minor dan stigma negatif tentang kita. Waalahu A’lam. (*)

Related Search