PANEN TEBU: Sejumlah petani tebu di Sampang mempertanyakan soal bantuan yang belum terealisasi. (KM/SYAMSUL ARIFIN)

Ke Mana Dana Bantuan Tebu?

1158 views

KORANKABAR (SAMPANG)-Program pengembangan tebu di Sampang yang digagas sejak tahun 2012 silam, ternyata masih menimbulkan sejumlah masalah. Salah satu yang kini mengemuka ialah terkait dana bantuan.

Sejumlah kelompok petani (poktan) tebu di Sampang mengeluhkan tidak mendapat dana bantuan dan merasa ada ketidakberesan dalam penyaluran dana yang seharusnya mereka terima.

Akibatnya, puluhan petani tersebut mendatangi kantor Dishutbun setempat untuk meminta penjelasan soal bantuan yang seharusnya mereka terima pada Kamis (23/4). Selain soal bantuan, mereka juga mengeluhkan tentang sisa hasil usaha (SHU) yang seharusnya juga diterima petani.

“Saya tidak pernah menerima bantuan apapun, bahkan SHU yang sempat dijanjikan juga tidak pernah kita terima,” ungkap Sarkawi salah seorang petani tebu.

Menurut Sarkawi, desakan tersebut bukanlah tanpa alasan, karena selama ini petani tebu tidak pernah menerima keuntungan dari hasil pertanian tersebut. Padahal ia mengakui kalau kelompok tani (poktan) miliknya telah dibuatkan rekening oleh salah satu oknum Dishutbun.

“Dulu yang menawarkan program tebu itu adalah oknum Dishutbun dan oknum koperasi. Tapi poktan saya tidak pernah menerima bantuan. Malah saya dipanggil oleh Kejaksaan Negeri Sampang soal bantuan itu. Ini kan aneh,” urainya.

Dikatakan Sarkawi, selama ini pihak Dishutbun juga tidak pernah transparan soal dana bantuan dan SHU itu, sebab sejauh ini dirinya juga tidak pernah menerima buku rekening apapun yang berkaitan dengan bantuan tebu.

“Saya hanya disuruh menanam tebu seluas 20 hektare. Dan bentuk buku rekeningnya saya juga tidak tahu, malah saya dipanggil kejaksaan hingga dua kali, ” imbuhnya dengan nada kesal.

Bahkan Sarkawi dan juga sejumlah petani lainya juga mempertanyakan keberadaan sisa uang yang selama ini disebut sebut berada di rekening poktan.

Di bagian lain, Kabid Bina Kelembagaan Dishutbun Sampang Syaikhul justru mengaku tidak tahu menahu soal bantuan tersebut. Menurutnya bantuan tersebut sudah masuk ke rekening poktan masing masing. Sementara terkait SHU ia dengan tegas mengungkapkan jika persoalan tersebut menjadi wewenang koperasi.

“Demi Allah saya tidak pernah menggunakan rekening tabungan milik semua poktan, karena pembuatan buku rekening tabungan itu tidak menjadi wewenang Dishutbun,” akunya.

Sementara itu, Puji Widodo selaku perwakilan PTPN X Sampang juga tidak banyak memberikan keterangan soal ‘kisruh’ yang dialami para petani tebu dengan alasan pihaknya hanya memiliki wewenang pembinaan dan penentuan luas lahan tebu.

Namun demikian ia juga mengakui jika selama ini SHU tersebut belum dilakukan mengingat masih ada permasalahan di internal koperasi. “Permasalahan ini adalah permasalahan di internal koperasi, dan untuk SHU akan kita keluarkan jika diinternal koperasi tidak ada masalah,” ungkapnya.

Ditanya terkait total nominal SHU sesuai dengan luas lahan yang ada, Puji mengaku belum bisa memberikan penjelasan secara pasti, hanya saja ia mengungkapkan bahwa ada sekitar 160 hektare lahan milik petani yang mestinya mendapatkan SHU, data tersebut tercatat per bulan oktober 2014.

Dari informasi yang diperoleh, dana untuk pengembangan tebu terdapat beberapa macam. Selain kompensasi (bantuan, red) juga terdapat SHU yang nilainya bisa mencapai Rp500 juta per tahun. Dana ini menjadi kewajiban pihak PTPN X untuk memberikannya kepada petani melalui koperasi atau poktan. (sam/h4d)

Related Search