Kembangkan Batik Ronggomukti

1681 views

Corak batik di Kabupaten Probolinggo bisa disebut cukup kontemporer karena nuansa kedaerahannya cukup kental. Corak atau motifnya menjadi pembeda produk batik tersebut dibanding dengan produk daerah lain. Keunggulan itu dimaksimalkan Pengurus Ranting Ansor Kelurahan Sidomukti, Kota Kraksaan, Kabupaten Probolinggo yang mencoba memberdayakan warga sekitar.

SUNDARI ADI WARDHANA, Kraksaan

Kerajinan batik menjadi salah satu ciri khas yang dikembangkan di Kelurahan Sidomukti. Di kelurahan tersebut terdapat kelompok Media Edukasi Cemerlang. Berdiri sejak 2014, kelompok yang ada di Dusun Kranggan RT 3/RW 3 ini mampu merekrut karyawan hingga 40 orang. Mayoritas merupakan ibu rumah tangga.

Kelompok yang berkomitmen mengembangkan dan memberdayakan ekonomi masyarakat ini memilih batik sebagai sarananya. Sebab secara teknik, pembuatan batik di Kabupaten Probolinggo sama dengan daerah lain. Selain itu, usaha batik mempunyai peluang dan sangat prospek untuk dikembangkan di masa mendatang.

Apalagi, corak batik di Kabupaten Probolinggo lebih kontemporer, karena bercirikan nuansa kedaerahan yang kental. Sebut saja motif letusan gunung bromo, banjir bandang, batu-batuan, anggur, maupun corak khas Kabupaten Probolinggo lainnya. Sehingga, corak atau motif yang dimilikinya menjadi pembeda dibanding daerah lain.

Ketua Kelompok Media Edukasi Cemerlang Mahrus Ali mengatakan, usaha batik yang dikembangkan itu berawal dari pelatihan yang diselenggarakan Bidang Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo. Saat itu Pengurus Ranting Ansor ikut serta. Hasil dari pelatihan itu ditransfer kepada ibu-ibu rumah tangga (IRT) di lingkungannya.

“Kami melihat banyak IRT yang menganggur dan hanya ngerumpi sesama mereka. Karenanya kami berusaha untuk memberdayakan mereka. Alhamdulillah sambutan dari mereka cukup antusias,” tuturnya.

Sebelum mampu memproduksi batik, butuh waktu sekitar 3 bulan bagi ibu-ibu tersebut untuk mengaplikasikan hasil latihan. Mereka berlatih secara intensif di rumah Mahrus yang difungsikan sebagai tempat produksi. Motif dan desain batik yang dibuat kelompok tersebut merupakan karya sendiri. Seperti batik Ronggomukti yang menjadi ciri khas kelurahan tersebut. Batik ini merupakan perpaduan dari motif batik Sidomukti dengan kisah Kiai Ronggo, sesepuh Kota Kraksaan.

Pemilihan motif ini mengandung makna filosofi yang sangat agung. Batik Sidomukti sendiri merupakan batik yang memegang peran vital bagi kehidupan laki-laki dan perempuan di Jawa dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Batik ini dikenal juga dengan nama batik Sawitan dan dikenakan pada saat upacara pernikahan.

Kata sido dari Sidomukti memiliki arti terus menerus atau menjadi. Sedangkan mukti berarti hidup berkecukupan atau bahagia. Dengan kata lain, arti Sidomukti yaitu harapan masa depan yang baik, dan penuh kebahagiaan bagi kedua mempelai. Pada zaman dahulu, para pembatik sebelum membuat motif Sidomukti biasanya melakukan puasa dan doa. Tujuannya, agar siapapun yang memakai batik buatannya memperoleh mukti atau kebahagiaan yang sempurna.

Di dalam motif Sidomukti, terdapat beberapa motif. Yang terpenting di antaranya adalah motif ukel yang bentuknya menyerupai  koma. Semakin kecil ukuran ukelnya, semakin tinggi kualitas mutu seninya. Selain itu, batik ini juga dihias dengan motif gurda, motif kotak-kotak yang bergambar kupu-kupu dengan kereta pengantin yang ditandu di bahu.

Demikianlah bagi orang Jawa, hidup yang didambakan selain keluhuran budi, juga mukti, atau makmur di akhirat. Intinya orang tidak hanya bahagia di dunia, tapi juga akhirat nanti. Sebuah kehidupan ideal yang tergambar dari motif batik Sidomukti.

Sementara Kiai Ronggo atau Abdul Wahab merupakan tokoh yang membabat alas Kota Kraksaan. Pada tahun 1734, ia mendirikan Masjid Agung Ar-Raudlah. Ki Ronggo juga orang pertama yang membabat alas Kraksaan. Termasuk Rumah Dinas Pemerintahan sebagai peninggalannya. Komplek makam Kiai Ronggo sendiri terletak di RW IV Kelurahan Sidomukti Kota Kraksaan.

“Sehingga tak salah jika kami kemudian mengembangkan seni batik dengan menggabungkan motif Sidomukti dengan Kiai Ronggo. Motif Sidomukti tersebut kami modifikasi dengan tambahan keris atau tombak yang menjadi senjata Kiai Ronggo,” ungkap ayah dua anak ini.

Suami Eva Purnamasari tersebut mengatakan, ibu-ibu rumah tangga tersebut diberdayakan dengan mendapatkan upah berbeda. Ada tiga kategori perajin. Pertama, mereka yang menggambar desain batik. Per lembar, upah mereka Rp15.000. Tiap hari tiap karyawan bisa menyelesaikan 5-6 lembar. “Ini khusus pemula. Kalau yang sudah terlatih, bisa 8-10 lembar per hari,” tuturnya.

Berikutnya yakni karyawan yang mencanting kain yang cukup penting dalam pembuatan batik. Bagus dan tidaknya hasil batik, tergantung dari sempurna tidaknya proses mencanting. Upahnya Rp35.000 hingga Rp60.000 per lembar, tergantung tingkat kesulitan pola batik. “Bahkan ada yang baru selesai setelah proses 2 hari. Itu upahnya disesuaikan,” ujarnya.

Kategori ketiga yakni karyawan yang mewarnai dasar batik. Proses ini paling mudah, sebab perajin menggambar batik dengan menggunakan kuas. Dalam sehari, tiap karyawan bisa menyelesaikan hingga 20 lembar. Karena mudah itu pula, upahnya hanya Rp5.000.

Tiap bulan, kelompok ini hanya mampu memproduksi kain batik maksimal 50 lembar. Ukurannya 1,25 meter x 2,5 meter. Tiap lembar batik tenun ini dijual dengan kisaran harga Rp200 ribu-Rp400 ribu.

“Harga tergantung motif dan permintaan. Makin sulit motifnya, tentu harganya makin mahal. Selain motif yang kami desain sendiri, kami juga menyesuaikan permintaan motif dari pelanggan tersebut,” jelas Ketua Ranting Ansor Kelurahan Sidomukti tersebut.

Soal pemasaran, Mahrus mengaku tidak kesulitan. Bahkan, saat ini pihaknya kewalahan karena banyak order. Terutama dari kalangan satuan kerja (satker) di lingkungan Pemkab Probolinggo. “Saking banyaknya, harus ada yang bersabar menunggu. Ditambah SDM karyawan kami juga terbatas,” katanya.

Camat Kraksaan Sugeng Wiyanto mengatakan, Pemkab perlu meningkatkan promosi batik ini. Sehingga eksistensinya makin luas. Hal itu juga membuka peluang kerja bagi kalangan ibu rumah tangga. “Kami terus mempromosikan batik hasil kelompok tersebut. Sehingga mampu menjadi kelompok usaha kecil yang mandiri. Diharapkan nantinya memacu kelompok atau warga lain untuk turut membuka usaha baru,” kata Sugeng. (dik)

Related Search