SIAPKAN KENDARAAN POLITIK: Koalisi PBB, PAN dan Partai Gerindra dibentuk tanpa mengusung calon dan belum mempunyai figur yang tepat. KM/WAWAN AWALLUDDIN HUSNA

Koalisi Baru Ragukan Semua Figur

290 views

KORANKABAR.COM(PAMEKASAN) – Koalisi 3 partai yang baru terbentuk, justru meragukan kemampuan semua figur yang belakangan ini muncul. Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Gerindra dan Partai Amanat Nasional (PAN), beberapa waktu lalu sepakat bersatu membentuk koalisi untuk pemilihan kepala daerah (pemilukada) Pamekasan 2018.

Koalisi yang belum mempunyai nama itu, belum punya figur calon bupati yang bakal diusung, baik dari internal mereka maupun eksternal. Figur-figur yang belakangan ini muncul, dianggap hanya mengumbar pencitraaan tanpa konsep. Mereka dianggap tidak punya rencana menyelesaikan persoalan yang kini dihadapi Pamekasan.

Ketua DPC PBB Pamekasan Suli Faris mengakui, para figur yang belakangan rajin memperkenalkan diri ke publik, belum menyuguhkan pendidikan politik. Sebab, kini masyarakat tidak lagi sekedar memilih figur, namun konsep yang jelas.

“Masalah di Pamekasan terlalu kompleks. Jadi, harus ada yang berani menghadirkan solusi,” katanya.

Wakil Ketua DPRD Pamekasan itu menyatakan, yang dibutuhkan Pamekasan saat ini adalah orang yang mempunyai komitmen, kecerdasan, punya terobosan baru, dan mengerti persoalan. Jika hanya kekuatan figur, katanya, tidak mampu membuat perubahan.

Masalah yang dianggap paling mendesak untuk diselesaikan, terdapat di 2 bidang, yakni ekonomi dan pendidikan. Gerakan Pembangunan Masyarakat Islami (Gerbang Salam) selalu dijadikan alasan penghambat peningkatan ekonomi, menurutnya, tergolong paradigma yang salah.

Sebab, hal itu hanya soal bagaimana merasionalkannya menjadi kebijakan dan strategi pembangunan. Gerbang Salam bukan slogan untuk mengungkung, namun lebih pada arah pembangunan. Investasi bukan menjadi masalah jika mampu menyesuaikan dengan karakter Gerbang Salam.

“Yang jelas, Gerbang Salam itu pedoman agar pembangunan tidak terlalu konservatif,” jelasnya.

Suli menolak anggapan pendidikan di Pamekasan telah maju. Sebab, prestasi yang diraih siswa lebih banyak secara individual, bukan kolektif. Artinya, bukan dipengaruhi sistem pendidikannya, melainkan disokong pendidikan luar sekolah, yakni bimbingan khusus terhadap individu siswa.

Selain itu, masalah pemerataan jam belajar dan keberimbangan jumlah guru juga tak kunjung tuntas. Perbedaan jumlah guru di wilayah pelosok dengan kota cukup mencolok, begitupun jam belajarnya. Jumlah guru di kota lebih banyak dibandingkan di pelosok, sementara jam belajar di pelosok lebih pendek dibanding di kota.

“Kalau ini dianggap masalah terbatasnya kuota CPNS, mengapa daerah lain bisa berkreasi. Seharusnya, bisa memanfaatkan tenaga honorer, dengan catatan perhatikan kesejahteraannya. Anggarkan dari APBD,” tegasnya.

Sayangnya, dari internal koalisi mereka juga belum ada figur yang memunculkan konsep penyelesaiannya. Namun menurut Suli, hal itu bisa dijawab saat digelarnya diskusi publik. Seluruh figur akan diundang dalam upanya koalisinya menjaring calon bupati.

“Selama ini, diskusi publik yang dilakukan para figur, tidak melibatkan partai. Padahal, partai politik yang punya stempel politik agar mereka bisa mencalonkan diri,” katanya. (waw/nam)

 

 

Related Search