ILUSTRASI

Komite Anak Sampang Setuju Pelaku Dikebiri

409 views

KORANKABAR.COM (SAMPANG) – Kasus kejahatan atau pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur yang terjadi di Kabupaten Sampang menunjukkan angka sangat mencengangkan. Ini menjadi acuan bahwa pengawasan anak harus ditingkatkan.

Berdasarkan data yang diperoleh Komite Anak Sampang, kejahatan seksual yang dilakukan oleh para pelaku ‘predator’ anak, terhitung sejak 2014-2015 sedikitnya terdapat 17 kasus. Namun demikian kasus tersebut belum dirinci secara gambalang.

“Data yang kami terima dari Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Sampang, dari tahun 2014 sampai 2015 ada 17 kasus asusila,” ungkap Ketua Komite Anak Sampang, Untung Rifa’i, Sabtu dua pekan lalu (17/10).

Menurut Kak Untung, demikian panggilan akrabnya, hasil penelusuran sementara, kasus kekerasan terhadap anak, di Sampang, cukup marak dalam tiga bulan terakhir ini. Ujarnya, pelaku dalam melancarkan aksinya begitu rapi dan secara tersembunyi.

“Salah satu contoh siswa SMP di Kecamatan Pangarengan, pelaku mempengaruhi siswa dengan mengonsumsi minuman keras, parahnya lagi campuran yang dijadikan minuman dari  obat-obatan untuk sakit mag dan batuk,” beber dia.

Kak Untung menambahkan, kasus yang terjadi di Kecamatan Pangarengan terbilang langka. Sebab, dari sekian kasus yang ditemukan kekerasan kepada anak lebih mengarah pelecehan seksual.

“Kasus ini untung cepat diketahui dan ditangani, jika tidak, dikhawatirkan dapat menelan korban (jiwa). Sebab, siswa kala itu ditemukan sudah teler dan muntah-muntah,” tambahnya.

Dijelaskan Kak Untung, ketika kasus tersebut akan ditelusuri, pihak korban lebih suka tertutup dan enggan menceritakan tentang identitas pelaku.

“Kekerasan anak bukannya tidak ada di Sampang, malah saya nilai banyak, namun sejauh ini kekerasan itu masih banyak yang belum terungkap karena sebagian korban tertutup,” tambahnya.

Ditambahkan Kak Untung, penanganan kekerasan terhadap anak sejauh ini dinilai masih kurang maksimal. Sebab, cenderung kasus yang ditemukan sebagain besar atas dasar pengaduan maupun atas laporan dari masyarakat. Bukan atas dasar temuan dan penyelidikan dari pihak yang berwajib.

“Ingat, kekerasan anak bukan hanya kekerasan fisik saja, namun psikis serta pelecehan seksual bagian dari kekerasan anak!” tandasnya.

Waspadai Salon Waria

Di sisi lain, Kak Untung mengingatkan, hasil penelusuran, tidak jarang kekerasan seksual terhadap anak mulai merambah ke sejumlah pusat pelayanan. Terbaru, dia menemukan ada indikasi dari sejumlah salon terutama salon pemiliknya waria (banci, atau istilah populernya sekarang, transgender) tidak jarang di dalamnya ada indikasi kekerasan seksual terhadap anak.

“Contoh sederhana, ketika anak ingin potong rambut atau cuci muka, sebagian ada yang mengatakan kemaluannya sering dipegang bahkan ada yang sampai dicium. Dan perlu diketahui bersama salon kecantikan di Kota Sampang kurang lebih 20 salon, itupun belum ditambah yang ada di kecamatan,” paparnya.

Terpisah, Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sampang Maniri, dia meminta kepada orang terdekat agar lebih memperhatikan perkembangan si anak. Terlebih dari  dari segi pergaulan dan temen akrabnya.

“Penanaman moral dan ahlak kepada si anak sejak dini sangat penting. Karena dasar ini sebagai benteng dari pengaruh negatif. Serta peran orang tua dan lembaga pendidikan sangat besar untuk menghindari anak dari  jeratan kekerasan anak,” tegasnya.

Soal adanya informasi gerakan tersembunyi perusakan moral anak-anak melalui miras, dan kekerasan seksual terhadap anak. Menurutnya pihak terkait, seperti kepolisian, lembaga pendidikan, dan orang tua bisa memberikan ruang waktu dan kenyamanan kepada si anak. Dalam arti lain, buat si anak bisa terbuka ketika ada persoalan yang menyangkut dirinya.

“Pendekatan secara persuasif kepada anak juga sangat penting, karena dengan cara ini si anak akan menceritakan apabila ada perlakukan yang tidak wajar terhadapnya. Jadi ajak bicara dan berikan kepercayaan kepada mereka,” tukasnya.

Menurut Kak Untung, karena itu semua maka selain orangtua, peningkatan pengawasan juga dibutuhkan dari lingkungan dan pihak sekolah. “Pengawasan juga harus ditingkatkan, ini sudah menjadi kewajiban dari semua pihak. Anak-anak ini para generasi penerus bangsa, jadi harus dijaga,” tegasnya.

Untuk itu, dia juga mendesak supaya para pelaku kejahatan seksual terhadap anak dihukum berat. Bahkan dia menyatakan, Komite Anak Sampang setuju dengan hukuman kebiri bagi pelaku sebagai efek jera.

Narkoba Juga Jadi Ancaman

Selain kasus-kasus asusila, perkara narkoba juga menjadi ancaman bagi anak-anak dan remaja di Sampang. Terhitung sejak Januari sampai September tahun 2015, belasan remaja di Kabupaten Sampang, menjadi tersangka kasus narkoba jenis sabu-sabu.

Kasat Narkoba Polres Sampang AKP Arief Kurniady menjelaskan, terhitung dari Januari sampai September, jumlah tersangka kasus narkoba yang berusia 17-25 tahun sebanyak 17 orang, sedangkan selama tahun 2014 lalu sebanyak 18 orang.

Kata Arief, mereka  bisa disebut sebagai korba, karena rata-rata hanyalah sebagai pengguna. “Menyikapi hal itu, kami mengimbau kepada pihak sekolah, pondok pesantren maupun masyarakat umum, untuk selalu melakukan sosialisasi dengan BNK (Badan Narkotika Kabupaten Sampang, red), untuk menjauhkan anak-anak dan remaja, atau siapa saja dari narkoba,” ujarnya, belum lama ini.

Arief mengungkapkan, hampir semua kecamatan di wilayah tugasnya selaku Kasat Narkoba Polres Sampang, saat ini marak penyalahgunaan narkoba. (mam/sam/yoe)

Related Search