Achmad Fauzi (Wabup)Achmad Fauzi (Wabup)

Kultur Tak Boleh Luntur

345 views

Oleh: Achmad Fauzi

 

Religius, mungkin adalah kata-kata yang tidak terlalu berlebihan bila ditujukan pada masyarakat Madura yang notabene adalah penganut agama yang taat menjalankan ajaran agama Islam berhaluan ahlussunnah waljamaah sebagaimana yang telah dibawa oleh Wali Songo ke tanah Jawa beberapa abad yang lalu.

Religiusme masyarakat Madura dapat kita jumpai dari keseharian serta kultur masyarakatnya yang mayoritas di rumah-rumah mereka berdiri musala atau langgar sebagai tempat mereka beribadah dan bermunajat kepada Tuhannya, bahkan bila mereka mempunyai satu lahan tanah yang akan dibuat rumah, maka sebelum rumah itu dibangun mereka terlebih dahulu membangun langgarnya.

Hal ini menegaskan bahwa mereka lebih suka mementingkan urusan ukhrowi dari pada urusan duniawi atau dengan kata lain mereka lebih suka mempunyai tempat beribadah daripada tinggal di rumah yang megah, tapi tidak mempunyai tempat ibadah.

Selain itu, Madura juga dikenal dengan masyarakat yang agamis, karena ada ratusan pondok pesantren dan madrasah diniyah di Madura, sehingga Madura disebut sebagai pulau santri. Termasuk hal yang nampak kita lihat ketika di setiap pelosok desa dipastikan mempunyai masjid megah yang merupakah hasil swadaya masyarakat setempat, dan setiap hari-hari besar Islam yang lain, di masjid-masjid tersebut diadakan pengajian untuk membangun dan mengukuhkan keimanan mereka.

Oleh karena itu, kultur di atas tidak boleh luntur, kita harus tetap menjaga dan menjunjung tinggi Madura sebagai pulau santri, sebab hal itu menjadi ciri khas Madura.

Kiranya beberapa hal di atas cukup membuktikan bahwa kultur masyarakat Madura adalah masyarakat yang religius serta agamis, kebiasaan menghormati para kiai serta tokoh masyarakat sangat kuat hingga merasuk dalam setiap jiwa masyarakat Madura, sehingga siapapun orangnya, baik itu orang yang alim, guru, pedagang, bahkan para blater bila sudah berhadapan dengan seorang kiai, maka akan sangat tawadu’ dan sungkan.

Kini, seiring dengan era globalisasi yang deras mengalir, apalagi setelah beropersinya jembatan Suramadu membuat akses ke Madura sangat mudah, sehingga juga memudahkan masuknya budaya serta kultur asing ke Madura, hal ini nampaknya telah membuat sebagian masyarakat Madura mulai melupakan nilai-nilai luhur serta kultur yang selama ini menjadi ciri has masyarakatnya, sehingga pesatnya perkembangan teknologi dan informasi yang tidak didampingi dengan tranformasi iman dan taqwa ke arah yang lebih baik telah menyebabkan sebagian dari kita sebagai manusia Madura kehilangan jati dirinya.

Oleh karena itu, sampai kapanpun Madura harus tetap dengan ciri khasnya hingga terus berkibar sampai akhir zaman. Kuncinya satu, letakkan urusan visi kemaduraan pada kepentingan bersama. Wallahua’lam. (*)

Related Search