Lima Keutamaan Ibadah Puasa

381 views

Ibadah puasa merupakan kewajiban bagi umat Islam. Sebagai salah satu dari lima rukun Islam, puasa menurut syariat diartikan menahan diri dari makan dan minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa.

Kewajiban dalam ‘menahan diri’ ini dimulai dari terbit fajar sampai terbenam. Dan kegiatan tersebut harus dijalani dengan syarat tertentu untuk meningkatkan ketakwaan seorang muslim.

Bulan suci Ramadan (puasa) menjadi salah satu bulan dimana Allah menjanjikan kenikmatan dan keberkahan. Bahkan didalam Ramadan, Allah juga memberikan sejumlah keutamaan, termasuk keutamaan bagi umat muslim yang menjalankan ibadah tahunan itu.

Didalam Hadist Qudsi Allah berfirman. “Diberikan kepada umatku lima hal (keutamaan) dibulan ramadan, yang mana keutamaan tersebut tidak pernah diberikan kepada umat sebelumnya.”

Adapun kelima keutamaan yang dijanjikan Allah SWT tersebut adalah, bau mulut orang yang berpusa lebih harum baunya dari minyak misk. Kedua, di bulan Ramadan, Allah memerintahkan para malaikat agar memintakan ampunan kepada orang-orang yang berpuasa.

Ketiga, Allah membelenggu syaitan agar tidak menggoda atau menjerumuskan orang yang berpuasa ke neraka. Ke empat, Allah memerintahkan kepada surga agar surga bersiap-siap untuk menyambut kedatangan orang yang berpuasa. Yang terakhir, Allah memberikan ampunan pada setiap malam bagi umat muslim yang berpuasa.

Dari lima janji Allah tersebut, kita selaku umat muslim patut berbangga, karena umat Nabi Muhammad diberikan kemewahan secara eksklusif jika dibanding dengan umat nabi-nabi yang lain.

Pertanyaanya, mengapa Rasulullah memerintahkan puasa dan menyatakan bahwa puasa tiada bandingannya dengan ibadah lain? Ini menunjukkan, puasa memiliki keutamaan sebagai penyebab orang masuk surga.

Bahkan, dalam hadis Rasulullah menyebutkan alasan keutamaan puasa dibandingkan ibadah lainnya, dengan ungkapan, “Puasa itu tidak ada bandingannya”. Hal ini menunjukkan beberapa keutamaan puasa.

Pertama, puasa tiada bandingannya dalam hal pahala. Rasulullah meriwayatkan Hadist Qudsi, “Setiap amalan anak cucu Adam adalah miliknya kecuali puasa. Puasa adalah milik-Ku (Allah) dan Aku yang langsung membalasnya”.

Bulan Ramadhan juga disebut sebagai bulan kesabaran, dan sabar itu balasannya: syurga. Jiwa ini dilatih selama sebulan penuh, sehingga diharapkan selanjutnya, kita lebih mampu mengendalikan diri dalam berinteraksi, baik dengan keluarga, masyarakat maupun bernegara.

Seorang beriman dilatih untuk senantiasa bersabar terhadap tiga hal: Pertama, sabar dalam ketaatan. Tentunya dalam rangka taat kepada Allah SWT. Dalam menunaikan shalat, menjalankan puasa, membayarkan zakat, menunaikan ibadah haji, berbakti kepada orangtua, mencari dan memberi nafkah keluarga, berbuat baik kepada fakir miskin, kepada tetangga dan seterusnya.

Ini semua butuh kesabaran, pasti tidak mudah menjalankannya. Hanya karena motivasi iman kepada Allah swt sajalah yang membuat seseorang kuat dan tangguh untuk tetap istiqomah.

Kedua, sabar menghindari maksiat. Di tengah kehidupan modern saat ini, tentu banyak sekali godaan-godaan untuk berbuat maksiat bagi orang-orang yang beriman. Apakah wujudnya harta yang tidak halal, godaan lawan jenis yang cantik atau ganteng, godaan kekuasaan yang kerap membuat seseorang terlena.
Andai saja, seseorang tidak memiliki kekuatan kesabaran terhadap rangsangan dan godaan tersebut, maka tentu hidupnya akan mudah terpesongkan dari jalan yang lurus.

Ketiga, sabar ketika mendapat musibah. Perhatikanlah, bagaimana sikap seseorang, ketika tiba-tiba mendapat musibah, bagaimana reaksi mereka. Ketika seseorang yang sangat dicintai, tiba-tiba meninggal dunia. Ketika rumah indah yang dimiliki hangus terbakar, ketika jabatan yang dirintis puluhan tahun, tiba-tiba harus dilepaskan. Berbagai bentuk penyikapan diungkapkan. Ada yang histeris, ada yang sampai gila, bunuh diri dan sebagainya.

Padahal semua ini hanyalah hiasan dunia. Seorang beriman tentu hanya akan berucap: Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, sesungguhnya milik Allah swt akan kembali kepada-Nya. Pada bulan Ramadhan ini kesabaran itu kita asah, sehingga jiwa taqwa, yaitu mampu mengendalikan diri, terwujud dalam diri kita. (*)

*) Pengasuh PP Darul Ulum 2 Al Wahidiyah Gersempal.

Related Search