Mari Bermuhasabah!

292 views

Setapak demi setapak, bulan puasa kita jalani. Rasa lapar nan dahaga mengiringi jejak perjalanan kita. Kebaikan kita tebar. Pengamalan ibadah kian dipertajam. Atau, justru semuanya hanya pupus oleh terjangan waktu?

Hal itu, tentu mesti dikembalikan kepada diri kita sendiri. Akankah kita menyadarkan diri untuk bermuhasabah di bulan suci ini? Oleh karenanya, marilah kita bermuhasabah sembari mengingat kematian.

Ketika kita menyaksikan orang-orang di sekitar kita, entah keluarga, teman, kenalan atau lainnya, satu persatu mereka telah dipanggil oleh sang pencipta melalui kematian.

Dari itu, kita bisa sadar bahwa sebenarnya hidup ini adalah sebuah penantian. Kita sedang menunggu giliran untuk dijemput oleh sang maut yang datang secara tiba-tiba. Tidak pernah kenal kompromi.
Kedatangannya sering di luar dugaan. Ia tak kenal status. Tua, muda, kaya, miskin, rakyat atau penguasa, semua mengalami sakaratul maut.

Pada kesempatan ini, bolehlah kita berandai. Seandainya kematian adalah suatu kemusnahan dan akhir dari segalanya; dan seandainya setelah kematian tidak ada tahapan kehidupan yang lain, maka selesailah urusan dan perkara kita. Bahkan, bisa jadi kematian adalah kebebasan dari beban hidup. Akibatnya, penderitaan yang sering mendera kita menjadi sirna seketika.

Karena itu, kita jumpai sebagian orang yang tidak mengerti hakikat kehidupan sehingga mengambil jalan pintas dengan melakukan bunuh diri. Mereka berharap dapat mengakhiri beban hidup dan penderiaannya. Padahal, bunuh diri adalah awal mula dari penderitaan sepanjang masa.

Hakikatnya, kematian itu hanyalah suatu proses peralihan dari suatu tahapan hidup ke tahapan yang lain. Karena kematian itu hanyalah sekadar keluar dan lepasnya roh dari jasad kita. Memang ketika itu jasad dan raga menjadi mayat (bangkai) bahkan akhirnya menjadi hancur.

Namun roh kita, setelah keluar dari jasad, akan tetap hidup. Rasa senang dan susah, bahagia atau menderita, tergantung keadaan ketika bersatu dengan jasad. Dengan roh inilah manusia kelak akan dibangkitkan dari kuburnya dengan jasad baru untuk dihadapkan pada sang Pencipta guna mempertanggungjawabkan amal perbuatannya selama di dunia. Dan dengan roh ini pula manusia akan menerima balasan amalnya berupa surga atau neraka.

Maka, beruntunglah kita yang sampai detik ini masih diberi penundaan direngkuh maut. Ini harus kita syukuri karena dengan begitu berkesempatan besar melipatgandakan pahala di bulan suci ini. Namun begitu, syukur tersebut belum mencukupi tanpa ditopang dengan upaya muhasabah atau pembenahan diri.

Lantas, bagaimana semestinya kita melakukan pembenahan diri? Tentu suatu upaya pembenahan harus didasarkan atas pengetahuan terhadap hal-hal yang perlu dibenahi. Maka manakala kita hendak berbenah diri, alangkah bijaknya jika dimulai dengan perenungan. Marilah kita merenung untuk melakukan pembenahan diri.

Renungan tersebut bermuara pada sebuah pertanyaan: dosa-dosa apa yang selama ini pernah dan terbiasa kita lakukan? Selanjutnya, kita bertaubat penuh kesungguhan serta menggenjot segala amal kebaikan. Bulan puasa adalah peluang besar untuk mewujudkan hal itu. (*)
*) Pengurus PCNU Pamekasan dan Sekretaris Dinas Peternakan Pamekasan

Related Search