Maruli Hutagalung dan Medium is The Message

379 views

PASCA penetapan tersangka Dahlan Iskan (DI) dalam kasus dugaan korupsi PT Panca Wira Usaha (PWU) Jatim oleh Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur, Kamis (27/10) lalu. Ratusan media massa, baik cetak, online, maupun elektronik, milik DI yang tergabung dalam Jawa Pos Grup memberitakan secara masif keburukan Kepala Kejati Jawa Timur Maruli Hutagalung.

 

Selama tiga hari berturut-turut sejak Jumat (28/10), Sabtu (29/10), hingga Minggu (30/10), berita Maruli yang diduga terlibat suap kasus Dana Bantuan Politik di Sumatera Utara menjadi headline atau minimal di halaman utama media milik Jawa Pos Grup.

 

Ketika kalangan awam menyebut Jawa Pos Grup sedang emosi melakukan counter attacklantaran tokoh mereka yang dianggap tidak bersalah dan tidak terlibat kasus penjualan aset PT PWU Jatim ditahan Kejati Jawa Timur, saya berpikir lain. Jika tujuan Jawa Pos Grup memberitakan keburukan Maruli, saya melihat pemberitaan secara berlebihan justru akan menguntungkan Maruli.

 

Medium is the message…. Herbert Marshall McLuhan dalam buku Understanding Media menyebut media adalah pesan itu sendiri. Pesan bukan hanya pada konten saja, melainkan juga pada perubahan yang dihasilkan oleh media tersebut.

 

Dalam hal ini, McLuhan mendefinisikan medium sebagai any extension of ourselvesatau segala bentuk perpanjangan tangan manusia. Jadi definisi media tidak hanya terbatas pada media massa seperti majalah, koran atau juga new media seperti internet. Alat-alat teknologi bisa masuk ke dalam definisi media seperti mesin cetak, mesin fotokopi, komputer dan sebagainya.

 

Kunci dari medium is the message adalah transformation. Pesan terjadi ketika suatu media mengubah kondisi masyarakat. Misalnya dulu ketika pertama kali muncul mesin cetak. The message is not what was printed, tapi justru bagaimana dengan kemunculan mesin cetak dapat mengubah masyarakat.

 

Dalam kasus pemberitaan Jawa Pos Grup tentang dugaan suap yang diterima Maruli Hutagalung, mungkinkah media milik Jawa Pos Grup justru dijadikan oleh media bagi kepentingan Maruli sendiri?

 

Dengan kerap diberitakan (dan menjadiheadline tentunya), nama Maruli akan semakin sering dibaca, disebut, dan didengar oleh masyarakat umum yang selama ini tidak pernah mengenalnya. Terjadilah transformasi ketika Maruli mulai dikenal oleh publik.

 

Maruli memang bukan politisi yang ingin maju menjadi kepala daerah atau presiden. Maruli seorang jaksa yang memiliki tugas menegakkan hukum di bumi Nusantara. Lembaga kejaksaan juga memiliki struktural dari daerah hingga pusat. Karir Maruli masih panjang untuk bisa menembus posisi elit Kejaksaan Agung.

 

Frank William Jefkins dalam buku Public Relations menyebutkan beberapa jenis citra (image), di antaranya: mirror image (citra bayangan), current image (citra yang berlaku), multiple image (citra majemuk), corporate image (citra perusahaan), dan wise image(citra yang diharapkan).

 

Semakin sering nama Maruli Hutagalung disebut dalam media massa (meski dengan stigma buruk), masyarakat akan semakin mengenal dan namanya kian terpatri di alam bawah sadar, termasuk di dalamnya lebih mengenal institusi kejaksaan melalui ‘pencitraan’ yang dibangun justru Jawa Pos Grup sendiri.

 

Pengambil kebijakan di Jawa Pos Grup menggunakan teori difusi informasi dengan berupaya memengaruhi opini publik bahwa Maruli adalah pelaku pelanggaran hukum yang wajib juga untuk diperiksa aparat hukum.

 

Media memang memiliki pengaruh (hegemoni) terhadap massa yang dapat didefenisikan sebagai pengaruh, kekuasaan, atau dominasi dari sebuah kelompok sosial terhadap yang lain. Namun ada juga hegemoni tandingan, di mana masyarakat tidak selamanya menerima dan memercayai begitu saja apapun yang diberikan oleh kekuatan yang dominan.

 

Terkadang, masyarakat juga akan menggunakan sumber daya dan strategi yang sama seperti yang digunakan kelompok dominan. Hingga batas tertentu, individu akan menggunakan praktik-praktik dominasi hegemoni untuk menantang dominasi yang ada. Hal ini disebut sebagai hegemoni tandingan (counter hegemony).

 

Jangan lupa, masyarakat di negeri ini masih sangat senang dininabobokkan dengan cerita-cerita a la sinetron. Yang lemah dan terkesan di-kuyo-kuyo bakal mendapat simpati dan dukungan. Bisa jadi dengan cara terus diberitakan buruk oleh media, khususnya Jawa Pos Grup, populiaritas Maruli yang terzolimi bakal mencuat ke permukaan. Strategi pencitraan semacam ini pernah dipakai beberapa tokoh yang akhirnya mendapatkan dukungan dari masyarakat.

 

Kita tunggu saja, apakah dalam waktu dekat karir Maruli Hutagalung akan melejit menjadi salah satu Jaksa Agung Muda, atau pemberitaan tersebut mampu menyeret Maruli menjadi tersangka dan mendekam dalam penjara? (*)

 

Rossi Rahardjo

Pemimpin Redaksi Harian Pagi Kabar Madura


 

Related Search