Memaknai La Haulah Wala Quwwata Illa Billah

414 views

Suatu ketika sahabat ditanya Nabi Muhammad SAW tentang makna La Haulah Wala Quwwata Illa Billah (Tidak ada daya dan upaya kecuali atas izin Allah)….semua jawaban sahabat dinilah kurang tepat oleh Nabi Muhammad SAW.

Pada kesimpulan akhir, Nabi Muhammad SAW memberi tafsir serta penjelasan tentang makna “Tidak ada daya dan upaya kecuali atas izin Allah”. Nabi menjelaskan, kalimat tersebut memiliki arti, tidak ada kekuatan kita (sebagai hamba Allah) untuk dapat berbuat baik, kecuali mendapat rahmat Allah, untuk bisa beribadah.

Sebaliknya, kita (sebagai hamba Allah), tidak bisa menghindar dari maksiat atau perbuatan dosa, kecuali mendapat rahmat dari Allah SWT, sehingga bisa jauh dari maksiat atau bergelimang dosa.

Kalimat tauhid ini kerap kali kita dengar di masjid, musala atau setiap usai shalat berjamaah. Tapi, kita terkadang khilaf, makna filosofi kalimat sapujagat ini. Padahal, kalimat ini memberi petunjuk kepada kita sebagai hamba Allah, agar selalu bersandar dan pasrah atas kuasa Allah SWT.

Secara lahiriah, rasionalitas manusia bisa menilai sesuatu yang baik dan buruk terhadap apa yang menjadi ajaran Islam. Sehingga, dalam tinjauan rasionalitas, setiap mukmin, bisa mengukur sesuatu yang baik agar bisa beribadah dan hal buruk agar bisa menghindar.

Pertanyaan banyak orang, mengapa masih banyak yang ingkar kepada Allah? Sehingga ada yang memiliki faham, untuk bersikap keras dalam menerapkan syariat Islam.

Pemikiran ini, seperti bertolak dengan firman Allah dalam surat An-Nahl, ayat 93: “Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia (Allah) menjadikan kamu satu umat (saja). Tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.”

Dan firman lain dalam surat Ibrahim ayat 4: “Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”

Seorang sufi bernama Abu Yazid Thoifur bin Isa bin Surusyan al-Busthami sempat berpikir, ketersediaan waktu untuk selalu banyak beribadah kepada Allah SWT berdasar dari keinginan kuat dirinya agar meraih ridho Allah. Sehingga, kebiasaan ibadah dan selalu ingat (dzikir) kepada Allah Swt, juga disangka dari buah amal baiknya.

Tapi, pada hari-hari berikutnya, Abu Yazid meralat asumsinya. Dan menyatakan secara terbuka kepada murid dan khalayak, bahwa kemampuan dirinya dapat beribadah dan selalu berdzikir (ingat) kepada Allah SWT bukan karena hasil keinginan kuat untuk dekat kepada sang Khaliq. Melainkan kehendak Allah SWT yang ingat kepada dirinya. Sehingga fikiran dan hatinya terus nyambung kepada Allah untuk terus beribadah dan dzikir (ingat) kepada Allah.

Seorang santri bertanya kepada sang guru sufi yang menerangkan sekelumit kisah Abu Yazid. Sang guru mengibaratkan, magnet dengan paku. Sepintas secara kasat mata terlihat jelas paku yang bergerak mendekat menuju magnet.

Tapi jika diteliti oleh ahli fisika, bukan karena paku yang bisa bergerak. Tapi, energi yang terkandung dalam magnet mampu menarik paku yang diam, menjadi lengket.

Arti makna La Haulah Wala Quwwata Illa Billah (Tidak ada daya dan upaya kecuali atas izin Allah), manusia pada dasarnya tidak bisa berbuat apa-apa. Termasuk dapat melaksanakan ibadah siang-malam. Kecuali, ada tarikan dari sang kuasa (Allah SWT), sang Ilahi. (*)

Related Search