Membentuk Masyarakat Mulia dan Bermartabat

1382 views

Di bulan Ramadan ini, sangat tepat bagi kita untuk melakukan renungan atas firman-firman Allah Swt yang tertuang dalam kitab suci Alquran. Ada banyak ayat-ayat Allah SWT terkadang sangat penting dijadikan landasan dalam kehidupan sehari-hari.
Banyak sifat dan perbuatan yang dilakukan kita tidak mencerminkan nilai-nilai Islam. Padahal, semua kehidupan manusia sudah diatur sedemikian detail oleh Allah SWT dalam Alquran. Mulai dari tata cara hidup dalam rumah tangga hingga menata sosial masayarakat yang lebih luas. Semuanya demi mewujudkan kehidupan yang mulia dan bermartabat.
Cita-cita Alquran untuk membentuk masyarakat mulia dan bertabat banyak sekali yang dapat dikaji dalam Alquran dan Hadits. Keduanya merupakan sumber pengetahuan yang dapat dijadikan landasan dalam kehidupan sosial agama, ekonomi, budaya bahkan sosial politik.
Mengaji kitab Allah dan Hadits Nabi tidak akan pernah habis dan selalu dinamis. Setiap kajian yang dilakukan akan selalu muncul konsep baru. Kandungan dan rahasia yang tertuang dibalik ayat-ayat-Nya sungguh tidak akan pernah tertandingi, seperti diterangkan dalam surat Al-Waqiah ayat 77, Allah SWT berfirman, “innahu laqura’nul karim (sesungguhnya Alquran yang sangat mulia)”. Sehingga orang yang berpegang teguh padanya tidak akan pernah mengalami kesesatan hidup.
Sebagai mahluk ciptaan Allah SWT yang tertinggi dan sempurna, sebagaimana firman Allah dalam surah  At-Tiin ayat 4 yang berbunyi: “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. Manusia dicipta Allah SWT, selain sebagai makhluk individu, juga sebagai makhluk sosial.
Sebagai makhluk sosial, manusia dalam menjalani hidup dan kehidupan ini, tidak terlepas dari manusia  lain beserta lingkungannya. Sebab, manusia tidak dapat hidup sendiri dan menyendiri tanpa bantuan  orang lain.
Pada substansinya dalam diri manusia terdapat hasrat yang mendorong manusia untuk hidup bermasyarakat, baik hasrat mempertahankan diri, hasrat berjuang, hasrat harga diri, hasrat bergaul untuk mendapatkan  kebebasan dan hasrat tolong menolong.
Alquran mengatur sistem yang lengkap. Didalamnya dijumpai banyak aspek dan metodologi kehidupan hidup.  Komprehensifitas Islam itu menjadikan kehidupan manusia lebih baik dan bermakna. Bukan hanya Islam yang menikmati ajaran dan kandungan Islam itu, tapi juga masyarakat lain yang tidak sepaham dan se-ideologi  dengan Islam, juga akan menikmatinya.
Kenapa Islam dipandang sebagai agama universal? karena kebenaran yang dibawahnya sesuai dengan hati nurani manusia. Dalam beberapa tafsir para ulama mengemukakan banyak teori konsepsional mengenai  konsep masyarakat Islam ideal. Masyarakat Islam mulia  dalam AlQuran merupakan sebuah tatanan yang  muncul dari suatu keharmonisan yang selalu menjadikan orang merasa senang. Selalu mendapat pengayoman  semua pihak.
Ajaran Islam ibarat pohon besar yang memiliki cabang dan ranting yang rindang. Bisa member perlindungan dari sengatan terik matahari.
Konstruk masyarakat Islam mulia adalah suatu tatanan masyarakat yang lahir dari rahim aqidah yang  baik. Perilaku hidup yang mulia. Taat kepada Allah dan melaksanakan perintah dan menjahi segala larangan-Nya. Berbeda dengan konstruk masyarakat non beradab. Konsep hidupnya dibangun dan lahir dari  segala ketidakbaikan dan ketidaksesuaian dengan visi dan misi Islam itu sendiri.
Dalam tatanan masyarakat mulia, tanpa ada penilaian ras dan suku apalagi konflik pertautan yang berangkat dari perbedaan yang sifatnya amaliah tersebut. Rasa untuk menjunjung tinggi adanya perbedaan  dan ketidaksamaan telah merasuk kedalam setiap individu masing-masing komponen dalam masyarakat.
Unsur yang menjadikan masyarakat tersebut damai adalah karena satu ikatan kokoh yaitu aqidah. Satu  ikatan yang tercermin dalam kehidapan sehari-hari. Ikatan yang bisa dipersatukan segala kepentingan. Ikatan yang mendamaikan dan memformulasikan semangat kebersamaan. Sebagaimana surat Al-baqarah ayat 2, Allah SWT berfiman, tiada keraguan didalamnya (Alquran) Alquran sebagai petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. Juga Alquran surat Ali Imran ayat 134: Ciri-ciri orang yang taqwa itu adalah antara lain, suka berbagi dalam keadaan susah maupun senang. (*)

Related Search