Memuliakan Guru dengan Ta’limul Muta’allim

1654 views

Saya pernah nyantri di Pondok Pesantren Annuqayah, Sumenep Madura. Sebagai seorang santri, tokoh yang dimuliakan adalah kiai. Kiai merupakan guru besar bagi santri dan masyarakat desa. Gelar kiai, adalah penyematan kultural, yang dimuliakan karena keilmuan, serta sumbangsihnya, yang menularkan ilmunya kepada santri dan masyarakat sosial. Menjadi kiai dan guru, adalah kebanggaan tersendiri bagi orang Madura. Kemuliaan dan tingginya status kiai ini, kiranya salah satunya, juga banyak dipengaruhi oleh teks berupa kitab Ta’limul Muta’allim.

Lazim di setiap pesantren di Madura, menyajikan materi ta’limul muta’allim. Entah itu, di lembaga formal, yang berada di bawah naungan pesantren, maupun dalam setiap ajian kitab, entah itu pagi hari dan sore hari, di pesantren. Ayah saya juga seorang guru, yang memegang materi ta’limul muta’allim di Pondok Pesantren Aswaj.

Ta’limul mutaallim merupakan kitab yang berisi tentang tata cara seorang pencari ilmu. Di antara pointer, dalam kitab ini, berisi tentang akhlak murid kepada seorang guru. Guru, dalam kitab ini, diposisikan sebagai sumber penyampai ilmu. Ibarat ada cahaya, guru adalah sumber cahaya, yang menyipratkan sinarnya kepada orang yang mencari ilmu. Posisi yang tinggi dari seorang guru ini, mengandaikan seorang pencari ilmu, atau murid harus mengabdi kepada gurunya, untuk mendapatkan ilmu. Ilmu bukan sekadar kerangka pengetahuan semata. Ilmu yang dicari, adalah ilmu yang barokah. Bermanfaat bagi realitas sosial sekitarnya.

Konsekuensi logis dari kitab ini, yang diajarkan dan diamalkan di pesantren, mengakibatkan seorang santri itu, menghormati gurunya dengan segenap hati. Tidak hanya gurunya, bahkan sekitar gurunya juga dihormati. Mulai kelurga, hewan piaraan, dan kendaraan yang dikenakan oleh gurunya. Bahkan, kalau sang kiai, masuk di forum, dengan melepas sandal, maka sudah bisa dipastikan, banyak santri yang akan membalikkan sandalnya. Sebagai bentuk penghormatan dan ketakdziman.

Kalau sang kiai berkunjung ke desa-desa, ke tempat santrinya, dan disuguhi oleh hidangan, biasanya sisa makanan yang dihidangkan kepada gurunya, juga akan menjadi rebutan. Karena di anggap akan menuai barokah.

Secara harfiah, barokah bisa dimaknai dengan bertambahnya kebaikan. Simbol tokoh yang mempunyai barokah adalah kiai. Ketika saya menjadi santri, maka yang paling banyak dikejar adalah barokah kiai. Bukan hanya sekadar untuk tahu tentang teori-teori semata.

Dengan simbol ketokokah kiai di pesantren, hal itu kiranya juga menjadi warna tersendiri, sebagai salah satu cara untuk mencerdaskan kehidupan anak bangsa. Pendidikan pesantren berjalan dengan sederhana. Tapi benar-benar membentuk mentalitas dari seorang pelajar untuk menghadapi realitas sebenarnya. Misalnya, banyak santri, yang setiap harinya, hanya di didik dengan memikul air tiap hari, membantu kiai menanam padi di sawah, serta hanya membantu kiai dalam membangun pesantren, kadang ketika menjadi alumni, menjadi tokoh yang dihormati oleh masyarakat desa. Karena yang dilatih oleh kiai, bukan otaknya, melainkan hati dan mentalnya. Kadang malah, beberapa kiai, tidak banyak bicara di forum, namun demikian, ternyata lebih dipahami oleh santrinya. Karena ternyata, sang guru telah memberikan contoh nyata, lewat perbuatan sehari hari. Tanpa sadar dan juga disertai dengan banyak teori, ada ikatan antara santri dan kiai.

Ikatan antara santri dan kiai cukup dalam. Tidak hanya hubungan guru dan murid, saat di kelas. Yang diikat itu adalah hatinya. Ikatan ini, bisa dilihat dari tradisi doa-doa yang dikirimkan oleh guru kepada muridnya, dan atau dari murid kepada gurunya. Hal ini, tidak hanya semasa guru dan murid ini, masih hidup, Bahkan hingga meninggal pun, ikatan itu tetap terjalin.

Hal ini, kiranya yang membentuk tradisi selanjutnya, berupa ziarah kubur, ke guru-guru besar di pesantren. Tradisi ziarah ini, adalah sebentuk nyata, akan ikatan yang selalu terjalin antara guru dan murid, di pesantren.

Narasi di atas di dukung dengan hasil data penelitian yang dilakukan oleh orang luar dan dalam tentang Madura. Bahwa sosok kiai tetap menjadi sentral dan aktor penting, dalam transformasi sosial, bagi masyarakat desa Madura. Hal ini, bisa ditemukan, dalam hasil penelitian, Mien Ahmad Rifaie, Hube de Jhonge, A. Latief Wiyata, AF. Roziki, dan lain-lainnya.

Ketundukan santri kepada kiai, yang menjadi gurunya itu, berbanding terbalik dengan kenyataan hari ini, pada lembaga-lembaga pendidikan formal, yang kadang malah menganggap guru, hanya sebagai pekerja atau karyawan. Bukan sebagai aktor transformasi nilai ke anak didik. Profesi guru, kadang hanya berada di sudut-sudut kepentingan, dan kerap selalu dipinggirkan keberadaannya, oleh realitas global.

Kata-kata yang dulu heroik, yang menganggap guru, sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, kini seakan hanya menggelinding pada ruang kosong semata. Yang lebih menyakitkan, guru kadang malah dianggap sebagai buruh lembaga pendidikan, dengan komoditas, berupa jumlah murid, dan harga diri yang kadang, hanya ditentukan oleh nilai tukar rupiah.

Malah yang terjadi hari ini, dengan seperangkat alat kemajuan, yang kadang ukurannya hanya materi semata, guru yang malah diatur oleh siswanya. Bukan guru yang mengatur siswanya. Sehingga, transfomasi pengetahuan, seakan terasa menjadi sesuatu yang hambar semata. Karena transformasi pengetahuan dan nilai itu, hanya dilakukan dengan oral semata, bukan dengan hati. Akibatnya, masuk ditelinga kanan, lalu keluar dari telinga kiri.

Kini, sudah saatnya, mulai mentradisikan dan mengembangkan kitab ta’limul muta’allim, untuk diajarkan kepada seluruh anak didik bangsa ini. Kitab ini, bisa masuk ke segala lapisan. Jika kesulitan membacanya, lantaran memang memerlukan ilmu tata bahasa arab, kitab ini, juga banyak tersebar di internet, dengan terjemahan sekaligus penjelasannya. Sudah saatnya, kian memuliakan guru, dengan menyebarkan ide dan gagasan dalam kitab ta’limul mutaallim.

 

azis

 

 

 

 

 

 

Oleh: Oleh Ach. Taufiqil Aziz, Masih menjadi santri, di Pondok Pesantren Ansoriyeh, kota Sumenep.

Related Search