Mengusung Peradaban Buku

1286 views

MEREBAKNYA proyek usaha penerbitan buku ada kaitannya dengan geliat minat memiliki buku. Masyarakat Indonesia tahun ini bisa dibilang mulai peduli terhadap buku. Buku mulai ada di sana sini. Ketika belanja di swalayan, minimarket di sudut rak terpajang aneka buku. Buku setidaknya menjadi menu yang dibutuhkan untuk konsumsi otak.

Apakah keinginan memiliki buku sama dengan memiliki kebutuhan barang konsumtif? Tokoh sekaliber Sigmund Freud (1998:56) mengilustrasikan bahwa, hasrat konsumtif manusia lebih dominan dari yang lain. Simpul sederhana, memililh dan memiliki buku bagi masyarakat Indonesia ada dua kemungkinan, karena gengsi atau sebab koleksi. Dua tipologi ini pada prinsipnya baik. Sama-sama memiliki substansi normatif membiasakan hidup dengan ada buku. Akan tetapi pada batasan substansi keilmuan, dua tipologi tersebut berbeda jauh. Antara gengsi dan koleksi memiliki mekanisme teori dengan aktualisasi nilai berlainan.

Gengsi jika pinjam buku

Budaya membaca hakekatnya tidak bisa lepas dari budaya pasar. Budaya pasar yang penulis maksudkan, bisa memiliki barang karena sebab memberikan imbalan jasa. Sama dengan dunia buku, pengetahuan yang tersaji di dalam buku memiliki harga tawar bernilai. Pengetahuan yang didapat dari buku dengan status hak milik sendiri (buku), padanannya sama denga  memiliki barang berharga yang  sudah resmi dibeli. Buku yang kita niliki, nilainya jauh lebih sempurna dari memiliki buku tapi dalam rentang waktu yang sangat cepat.

Sangat berat membendung budaya pinjam. Gurita budaya pinjam mengakar di sejumlah komunitas. Dengan alasan yang sangat alegoris-sensitif, buat ap beli buku jika bisa pinjam. Maksudnya begini, meminjam buku tidak salah. Akan tetapi, berusaha mencari celah lepas dari jerat budaya pinjam jauh lebih terhormat. Ada sisi negatif gurita budaya pinjam. Salah satunya, terjebaknya individu atau kominitas pada belitan kusut pragmatisme. Jila tidak bisa mengembalikan atau semisal hilang resikonya dimensio al. Pokoknya, budaya pinjam memiliki efek kurang sehat bagi laju cara pandang dalam hidup ini.

Ada sekian alasan mengapa budaya pinjam musti dilawan. Alasan pragmatis-konsumtif, penerbit bakal kekurangan pendapatan. Sebab, target penjualan buku di pasaran tidak mulus sepeti yang direncanakan. Alasan imajinatif-kolektif, pemilik buku dihantui perasaan khawatir bukunya rusak, hilang atau dibawa lari peminjam. Yang lebih substansial, proses pinjam-meminjam mematikan rasa juang untuk memiliki buku dengan upaya sendiri. Puncaknya, antara kedua belah pihak terbebani rasa berat yang berujung kepada trauma kolektif.

Mengusung peradaban buku

Kosinstensi mengarahkan masyarakat ke arah perubahan diantaranya dimulai dari membangun peradaban. Peradaban disini titik pijaknya adalah kebiasan. Lokus utama kebiasan adalah konsentrasi terhadap gerak dialektif pengetahuan. Informasi yang hilir mudik di sepanjang rutinitas masyarakat membutuhkan rasa konsentrasi untuk diperhatikan, diamati, dikritisi dan diaktualisasikan. Kecermatan analisa ini dalam proyek literasi menjadi komponen buku. Sehingga, tanpa disadari bangunan bukuisasi merasuk dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat.

Peradaban buku, dirasakan saja sudah cukup. Apalagi, masyarakat di belahan nusantara melebur secara akademis dalam peradaban bersangkutan. Yaitu, berkomitmen membaca buku, mengkritisi buku, menginformasikan buku, lalu mengambil nilai penting isi buku untuk dimanfaatkan dalam kehidupan bermasyarakat. Kita tunggu, kapan denyut awal peradaban buku akan stabil di bumi pertiwi ini. Wallahu a’lam.

FOTO ZAITUR R

 

 

 

 

Oleh: Zaitur Rahem, Dosen Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-guluk Sumenep.

Email: zaitur_rahem@yahoo.co.id

 

Related Search