Menyemai Konsentrasi Berpuasa

258 views

Konsentrasi sangat mahal harganya. Kalau kita sedang menyetir sebuah kendaraan dalam kondisi tiada konsentrasi, bisa berakibat celaka.

Katakan saja kemudian tertabrak, maka keselamatan jiwa kita bakal terancam. Misalnya mengalami pendarahan deras akibat tabrakan tersebut, tentu biaya pengobatan yang tinggi dipastikan menambah beban persoalan.

Itu perkara dunia. Belum lagi kaitannya dengan yang berbau akhirat semacam puasa. Andaikan kita sudah kuasa menahan lapar dan dahaga. Namun, di lain waktu, kita belum mampu menahan nafsu yang bergelora.
Maka, puasa kita bakal sia-sia. Lapar dan dahaga tidak menjadi pemantik melejitnya pahala. Tegasnya, kita sudah gagal merengkuh hikmah dalam bulan suci ini. Kerapkali, tiadanya konsentrasi dalam berpuasa menjadi pangkal dari permasalahan.

Ya, konsentrasi. Kata yang pendek ini, betapapun memerlukan pembahasan yang mendalam, apalagi dalam penerapannya, membutuhkan waktu yang cukup panjang. Konsentrasi bukan sekadar kata, dialah ‘jiwa’ dari ibadah kita. Sebagai jiwa ia berperan dominan; menentukan corak dan warna ibadah yang kita lakukan.

Tatkala kita menyaksikan orang yang sedang shalat atau melakukan zikir yang selalu menundukkan kepala, memejamkan mata, melakukan gerakan dengan tenang dan tidak terburu-buru, mungkin hati kita akan berbisik; alangkah konsentrasinya dia melakukan shalat atau zikir. Bisikan ini mungkin benar adanya.
Namun, itu bukan hakikat konsentrasi (dalam beribadah). Itu bentuk lahiriah saja. Konsentrasi dalam beribadah adalah penuhnya hati dengan ketundukan dan penyerahan diri kepada Allah SWT.

Disertai ta’zim, takut, malu, dan penuh harapan padanya, yang dari padanya akan timbul ketenangan dalam hati yang terwujud dalam sikap lahir. Dengan begitu, konsentrasi dalam beribadah bukanlah sikap lahir seseorang, tetapi merupakan sikap batin.

Hemat saya, selain shalat, puasa merupakan ibadah yang menuntut adanya konsentrasi tinggi. Sekali lagi, ini bukan sebatas persoalan lahiriah, tetapi batiniah.

Karena itu, orang yang berpuasa dengan kuasa menahan lapar dan dahaga, belum tentu menuai pahala berpuasa kalau tidak menjalaninya dengan penuh konsentrasi. Salah satu tolok ukur konsentrasi dalam berpuasa ialah berupaya keras untuk menjauhi hal-hal yang dapat merusak pahala berpuasa.

Karena itu, agar pahala puasa kita tidak rusak, penting kiranya mengimbangi dengan shalat yang dibalut konsentrasi mengagungkan. Dengan kata lain, orang berpuasa tetapi secara bersamaan mengabaikan pelaksanaan shalat, maka ia telah merugi.

Tanpa bermaksud mengenyampingkan keagungan puasa di bulan suci ini, shalat merupakan hal yang sangat penting untuk dipelihara sepanjang waktu. Shalat merupakan mi’rajnya orang mukmin. Di mana, rohani seorang naik untuk menghadap dan munajat (berdialog) kepada Allah SWT.

Oleh karenanya, kita butuh kesadaran penuh di samping sikap ta’zim yang sempurna. Kita tidak dapat membayangkan seseorang berdialog dengan orang lain sedangkan dia tidak menyadari apa yang diucapkan. Karena itu, sudah semestinya kita mempertajam ibadah shalat di tengah derasnya aliran pahala di bulan puasa.

Semoga kita menjadi orang yang beruntung, sekaligus mampu merengkuh peluang guna menyemai konsentrasi di bulan suci ini. Amin. Wallahu A’lam.

*) PNS di Kementerian Agama Pamekasan.

Related Search