PRIMADONA: Kerapan sapi masih menjadi unggulan objek wisata seni-budaya Madura. Bupati Pamekasan, Achmad Syafii berencana memanfaatkannya sebagai pendongkrak seni-budaya lain Madura. (KM/IST)

Mimpi Ambisius ‘Menjual’ Wisata Seni-budaya Madura

Kunjungan singkat ke Australia membuat Bupati Pamekasan, Achmad Syafii gregetan. Sebab, dia merasa, Madura yang kaya akan ragam seni-budaya ternyata kalah jauh dibanding Benua Kangguru itu, dalam memikat wisatawan. Karena itu, begitu tiba kembali di Pamekasan, dia langsung berinisiatif menggagas wisata seni-budaya Madura.Pemkab se-Madura pun digandengnya.

WAWAN AWALUDDIN, Pamekasan

KORANKABAR (PAMEKASAN) – MADURA, khususnya Pamekasan sebenarnya memiliki kekayaan yang cukup besar berupa potensi wisata. Tidak hanya wisata alam dan kulinernya, tetap juga ragam seni-budayanya yang eksotis. Masalahnya, Madura kalah jauh dibandingkan Australia dalam memikat wisatawan.

Hal itu yang membuat Bupati Pamekasan, Achmad Syafii merasa gusar sekaligus geregetan. Kunjungan singkatnya ke Benua Kangguru itu, beberapa waktu lalu, menggugah perasaan gusar dan gregetan itu.

Menurut pengamatannya, Madura khususnya Pamekasan disebut lebih kaya akan potensi wisata, terutama dalam hal seni-budaya, ketimbang Australia. Kelebihan Pemerintah Australia, sebut Syafii, hanyalah kepandaian dalam mengemas kekayaan wisatanya.

Dari benua yang juga dikenal akan industri dombanya itu, Syafii terilhami untuk mengembangkan potensi wisata seni-budaya Madura yang sangat besar. Dia pun bertekad menjadikan Pamekaasan sebagai pilot project.

Tekadnya tersebut, dia ungkapkan belum lama ini. “Kita punya objek wisata (seni-budaya) yang sangat potensial, hanya bagaimana mengemasnya saja. Dan kami (Pemkab Pamekasan, red) sudah siap dengan itu,” ujarnya sepulang dari melakanakan ibadah umrah, Jumat, 8 Mei lalu.

Berikutnya, Syafii mengklasifikasikan potensi wisata di Pamekasan menjadi tiga kelompok. Yakni wisata religi, wisata alam, dan wisata seni-budaya. Dari ketiga kelompok potensi wisata itu, menurut Syafii, wisata seni-budaya lah yang kurang banyak mendapat sentuhan supaya dapat memikat banyak wisatawan berkunjung ke Madura, khususnya Pamekasan.

Dari sisi seni-budaya, lanjut Syafii, sejauh ini Madura cuma dikenal dengan kerapan sapinya. Padahal, masih banyak ragam seni budaya lain Madura, yang sesungguhnya tak kalah memesona. Hasil kunjungan kerja singkat ke Australia mengilhami Syafii untuk menggagas revolusi konsep wisata.

Dia berencana memadukan ketiga kelompok potensi wisata tersebut, menjadi satu paket wisata. Konsep itu, tandas Syafii, sudah mulai direalisasikan, tahun ini. Badan Pengembangan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Pamekasan pun, sudah dia instruksikan membuat masterplannya.

Garis besar dari konsep itu, imbuh Syafii, adalah membuat paket-paket wisata berdasarkan lokasi objek wisata dan seni-budaya khasnya masing-masing. Antara lain, objek wisata alam pantai dan Api Tak Kunjung Padam, dengan wisata ziarah di Batu Ampar, Kecamatan  Proppo.

Kemudian, wisatya budaya seperti Kerapan Sapi dan Sapi Sonok, dengan Kampung Batik. Perencanaannya dilakukan secara menyeuruh dengan mempersiapkan masterplan. Rencananya, masterplan itu akan terselesaikan pada tahun ini. selanjutnya, programnya akan diawali pada tahun 2016.

Momentum Hari Jadi (Harjad) Kabupaten Pamekasan yang akan dijadikan sebagai pembuka. Formatnya, menjadikan Kerapan Sapi sebagai titik utama kunjungan dari semua rangkaian kegiatan Hari Jadi Pamekasan. Sembari, pengunjung langsung dikenalkan dengan objek wisata lainnya.

“Kerapan sapi ini sebenarnya potensi wisata yang mendunia, tapi kurang dikemas dengan baik, inilah yang akan menjadi titik utama dari rangkaian kegiatan hari jadi nanti,” jelas Syafii.

Karnaval busana batik, masuk dalam rangkaian kegiatan tersebut. Tidak hanya itu, wisatawan akan pula ‘digiring’ untuk melihat langsung Kampung Batik. Sebuah Desa yang diciptakan sebagai pusat kerajinan batik, karena seluruh penduduknya adalah pembatik.

Kini, tambah Syafii, jadwal paket kunjungan wisata itu, sudah dibuat oleh Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) Madura. Karena, kegiatan itu akan melibatkan seluruh  kabupaten di Madura.

“Bakorwil sudah menetapkan pagelaran Kerapan Sapi tepat pada tanggal 31 Oktober, bergandengan dengan Kegiatan Hari Jadi Pamekasan. Jadi, setelah lihat Kerapan Sapi atau di sela-selanya, pengunjung bisa langsung diarahkan ke tempat wisata lainnya ,” pungkas Syafii. (yoe)

Related Search