SULIT DITEMBUS: Tingkat permainan penjualan elpiji diatas HET belum bisa terjamah oleh Pemkab Pamekasan.KM/TOTOK ISWANTO

Miris, Elpiji Jadi Ajang Bisnis Kartel

242 views

KORANKABAR.COM (PAMEKASAN)-Pemicu belum maksimalnya harga liquid petrelium gas (elpiji) di Kabupaten Pamekasan, akhirnya mulai terkuak. Salah satu penyebabnya, diketahui dari tidak sehatnya pengiriman elpiji ke masing-masing agen. Bahkan, pendisitribuisian elpiji tersebut dijadikan ajang bisnis kartel; permainannya hanya berkutat di bagian agen yang memiliki banyak jaringan.

Dengan demikian, pola permainan tabung gas 3 kg itu, sulit terjamah oleh pemerintah setempat. Selain penyuplaian yang tidak sehat, pendistribusian elpiji dari agen juga disesuaikan dengan momen-momen tertentu. Sehingga, kenaikan harga hanya terjadi di beberapa daerah.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Perlindungan Konsumen dan Pelaku Usaha (PKPU) Samheri, Rabu (1/7). Dipaparkan, selama ini pola permainan dalam bisnis elpiji ini sangat rapi. Sehingga, meski pemerintah sudah berupaya untuk memaksimalkan pendistribusiannya ke setiap daerah, tapi masih belum membuahkan efek positif.

Ketersediaan elpiji masih rawan di tingkat kecamatan. Buktinya, pada tahun 2014 lalu pemerintah sudah meningkatkan pasokan elpiji, dari 42 ribu menjadi 47 ribu lebih. Namun, masih saja terjadi kelangkaan.

“Suplay ini tidak sehat, dan selalu menunggu momen. Jadi permainannya hanya terjadi di tingkat kawasan. Misalkan kawasan Pantura sekarang sehat, pasti di selatan tidak sehat. Jadi permainannya menggunakan sistem kartel. Sistem tersebut, jaringannya dikuasai oleh beberapa orang yang sama. Tapi, dengan kaki-kaki yang berbeda. Sehingga, permainan itu sangat sulit terjamah oleh pemerintah setempat,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Samheri menjelaskan, permainan yang dilakukan agen yakni dengan cara mengurangi suplay terhadap pengecer. Sehingga, terjadi permintaan yang melonjak. Di samping itu, antara pengecer dan juga agen sudah memiliki jaringan khusus ke Pertamina. Menurutnya, dengan adanya sistem kekompakan antara pengecer dan agen, maka dengan mudah melakukan permainan pada tingkat harga.

“Artinya jika di daerah utara katakanlah sengaja dikurangi stoknya, tapi dengan sendirinya agen tersebut meminta agar di daerah selatan juga dikurangi stoknya. Sehingga yang terjadi itu, ketika elpiji sudah habis, maka peran pengecer dan agen itu menaikkan suplay beserta harganya sekaligus. Kalau sudah terjadi seperti itu, masyarakat sendiri yang dikorbankan,” jelasnya.

Selama ini, terangnya, pemkab tidak bisa mengendalikan sitem permainan satu orang yang memiliki seribu kaki tersebut. Dengan demikian, pihaknya meminta agar pemkab bisa mengawasi suplay tersebut. Sehingga, kebutuhan elpiji dan kenaikan harga, bisa stabil. Menurutnya, jika memang kenaikan itu dari Pertamina, harus betul-betul diseriusi oleh pemerintah dengan mengadakan operasi.

Sementara itu, Ketua DPRD Pamekasan Halili mengaku memang terdapat permainan harga eceran elpiji berbagai ukuran. Bahkan, melebihi harga eceran tertinggi (HET) yang sudah ditetapkan. Bahkan akhir-akhir ini, para pedagang cenderung tidak lagi mengacu pada HET dan enggan memilih opsi menurunkan harga.

“Dari itu, kami meminta Pemkab Pamekasan, segera turun tangan dan mengambil langkah nyata. Masyarakat kadang tidak bisa berbuat banyak, karena mereka kan butuh. Ketika butuh, mereka tidak berpikir panjang; yang penting ada (elpiji), walaupun harga melambung tinggi,” ucapnya. Sayangnya, Halili enggan menjelaskan secara detail terkait harga elpiji yang melebihi HET. (ito/anm)

Related Search

    Tags: