Misteri Pulau Mimpi

1269 views

 PULUHAN bahkan ratusan ibu yang setiap tahunnya, bahkan bulan atau hari di Madura hampir tidak ada kata tidak ada suatu daerah pun kaum hawa (perempuan;red) melahirkan. Karenanya juga jumlah anak yang melahirkan tergantung, bahkan bisa jadi lebih karena kembar, dari seberapa jumlah ibu yang melahirkannya. Mudahnya standart kita pahami, jika seratus ibu melahirkan maka ada seratus anak baru (lahir) pula yang ada di Madura.

            Besar kemudian si-anak sudah ada lembaganya untuk merangsang atau memberikan stimulus pengetahuan lebih mapan, lembaga itu bernama lembaga pendidikan berupa sekolah, tinggal sang orang tua menghantarnya ke lembaga tersebut, mau tidak anaknya masuk dalam lembaga pendidikan!. Seusia lumayan baru bisa berbicara lembaganya pun sudah ada yang disebutnya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Banyak kita temui—utamanya di lembaga ini [PAUD]— nampaknya yang sekolah bukan hanya anaknya tapi keuntungannya pun orang tuanya terlibat untuk (minimal berdandan) bahkan mengikuti proses belajar atau yang santer menghabiskan jajan justru orang tuanya bukan!. bukan lagi hal yang langka tapi hal ini adalah hal yang pasti, buktikan saja kita lihat ke lemabaga yang saya maksud tadi.

Nah, banyak alasan orang tua memasukkan anaknya ke lembaga pendidikan, utamanya bagi kaum petani, ia mulai menginingkan anaknya mempunyai nasib yang lebih mapan, dalam artian jika orang tuanya menjadi petani maka anaknya tidaklah seperti demikian, harapannya dari menyedihkan menuju kebahgiaan. Secara tidak langsung pula, orang tua anak (siswa/i PAUD) ia telah menanam cita-cita baik bagi anaknya agar kelak tumbuh lebih baik dan sempurna.

Si-anak pun kemudian ternyata sudah bisa mengotak atik, dia sudah bisa membaca, menulis, menghitung dan lain sebagainya dari beberapa anak yang masuk dalam lembaga pendidikan tersebut. Bahkan juga besar sedikit siswa/i mulai juga ditanya oleh sang guru tentang cita-citanya ingin menjadi apa, siswa/i kalau masih belum juga tidak tahu atau tidak muncul cita-citanya, dari saking prihatin gurunya sambil lalu memberikan contoh hingga mengerti betul apa yang dimaksud dengan cita-cita dan seperti apa cita-citanya.

Ketika itu pula siswa/i nampaknya sudah mempunyai mimpi tinggi. Dimanakah ia sekarang lahir? Inilah yang penulis maksudkan membongkar rahasia bahwa, tanah kelahirannya siswa/i Madura misal, dari sekian ibu yang melahirkan ternyata sekarang kita juga bisa ketahuinya akan Madura sebagai pulau mimpinya siswa/i tersebut. Tidak ada satupun toh mimpinya (siswa/i) negatif melalui cita-cita yang ditancapkan dalam pikirannya sehingga disiram oleh hati sanubarinya untuk menumbuhkan keyakinan dan segera tumbuh subur bisa tergapainya. Barulah siswa/i menjadi generasi muda Madura lebih berarti yang siap tampil di ajang entah birokrasi, pengusaha (interpreneur) atau pembisnis, guru, pilot, dan lainnya.

Karenanya juga, siswa/i terus diupayakan untuk mewujudkan mimpinya, siswa/i dalam kajian psikologi masih subur-suburnya menyimpan informasi, entah informasi yang baik maupun jelek. Memory (otak) yang ia pakai masih orisinil sebagai alat menyimpan sekian informasi yang datang, jelas kiranya hadist yang berbunyi kullu mauludin yu ladu `alal fitrah, dimana setiap anak yang lahir dalam keadaan suci;bersih bagaikan kertas putih, tinggal ia merekam apa yang didengar maupun yang dilihatnya. Terutama sekali anak akan berkaca/merekam dalam tatanan keluarganya karena di sanalah (keluarga) setiap harinya mencetak banyak peristiwa tertentu dan sebagai lembaga pendidikan pertama tanpa kita sadarinya.

Lebih mendalam lagi akan hal itu (lembaga pendidiakan pertama bagi anak), ada perkataan orang arab yang bisa kita perhatikan bersama dan ambil hikmahnya; madrasah pertama bagi anak yakni adalah ibunya (al ummul madrasatul ula) sehingga patutlah kemudian seorang (calon) ibu harus hati-hatinya: hati-hati dari makanan yang diharamkan atau dilarang karena jika seorang ibu santer makan yang haram bisa jadi anak yang “salbut” bahkan sampai hari ini seorang ibu dan bapak sangat sekali dilarang membunuh seperti jenis hewan, apalagi insan, begitupun akan menjadi anak dzalim (gelap) akibat makanannya pun yang didapat sembarang dan sudah menjadi darah daging pada anaknya serta perbuatan yang semua itu sangat berpengaruh pada masa depannya. Bisa jadi anaknya enggan berbuat kebaikan, senangnya korupsi atau bahkan hanya mencetak sejarah hancurnya budaya dan peradaban masa depan Madura. Yang demikian dimungkinkan sudah tidak bisa dijangkau lagi anak akan senangnya berpendidikan bukan!. jangan berbicara ingin memajukan Madura lebih berarti selama ibu (keluarga) hancur dari segala arah, yang ada justru akan sebaliknya yakni akan terbangun misteri kehancuran keluarga atau Madura lebih parah.

Begitu juga sebetulnya berbicara Madura akan maju, jangan terburu-buru selama rutan tidak terpenuhi para elit birokrasi yang sama sekali tidak tahu menahu ketika bersalah tutup muka bahkan langkah dengan menyogok sekian “uang muka” agar selamat saja dari penjara. Para elit yang demikian ini sebetulnya telah membunuh mimpi generasi muda lebih eksis berkarya dan memberdayakan sosial semata.

Terus terang sampai saat ini kalau berbicara rutan paling melata hanya bagi rakyat kecil saja. Yang tidak habis pikir menjadi perhatian saya, jika penjara penjaganya adalah polisi, adakah jargon jeruk minum jeruk ini berlaku lagi? artinya jika polisi salah kemudian dimasukkan dalam rutan yang dia jaganya agar lebih berarti siapa yang telah menghuni rutan makan rutan diantara yang bersalah tentutnya, bukan ketika bersalah dipecat kemudian bebas hukum cacat dari rutan yang mentereng dibuat. Kalau demikian berarti tidak berani bertanggung jawab setelah berbuat. hal ini pun sebagian misteri mimpi saya (generasi muda) untuk mebongkar kedzaliaman di Madura agar lebih berarti karena berdaya, sekali lagi, untuk menjaga mimpi generasi selanjutnya yang masih balita hendak dewasa, apalagi yang sudah dewasa seperti kaum mahasiswa. Salam pergerakan!.

Wallahu a`lam….

Fathor Rahman 2

 

 

 

 

Oleh: Fathor Rahman, Alumni Instika Guluk-Guluk Sumenep, Berpos di Kaltim. Mantan Forum Lembaga Legislatif Mahasiswa Indonesia (FL2MI) Wil. Jatim.

 

Related Search