TAK BERKUTIK: Pelaku pembacokan MTL (tengah) saat diperlihatkan kepada awak media oleh jajaran Polres Sumenep.

Muka PKB Tercoreng

1366 views

SUMENEP-Peristiwa pembacokan di Desa Ketawang Larangan Kecamatan Ganding mencoreng muka Partai Kebangkitan Bangsa Sumenep. Sebab, pelaku tindak kejahatan tersebut ternyata adalah kader PKB.

Ia bahkan menduduki posisi strategis, yakni Ketua Pengurus Anak Cabang PKB di kecamatan setempat. Lantas apakah ada sanksi dari internal PKB?

Bendahara DPC PKB Sumenep Herman Dali Kusuma mengakui jika pelaku pembacokan di Kecamatan Ganding adalah kader partai. Pria yang juga menjabat sebagai ketua DPRD Sumenep ini juga tak mengelak terkait jabatan pelaku yang berinisial MTL tersebut.

“Benar. Yang bersangkutan adalah kader partai, dan saat ini sebagai Ketua PAC PKB Ganding,” kata Herman Dali Kusuma, kemarin.

Herman menegaskan bahwa tidak menutup kemungkinan akan adanya sanksi dari internal partai karena tindakan pelaku memang
sudah menyalahi hukum. Bahkan, imbuhnya, ada kemungkinan jika pelaku akan dinon-aktifkan dari kepengurusan partai.

”Tapi kami tidak langsung mau memberikan sanksi itu, karena kami masih menunggu hasil penyidikan kepolisian,” papar Herman.

Namun Herman menegaskan jika insiden itu diyakini tidak akan berpengaruh terhadap elektabilitas partai, apalagi dalam beberapa bulan ke depan PKB juga dipastikan bertarung kembali dalam
pemilukada.

“Secuilpun peristiwa itu tidak akan berpengaruh,” terang Herman.

Dia yakin, warga bisa memahami persoalan dengan jernih. Insiden di Ganding bukanlah persoalan partai, tapi murni unsur kemanusiaan yang kebetulan ada kader partai di dalamnya. Warga diyakini akan menggunakan nurani.

“Warga akan tetap memberikan pilihan terbaiknya nanti,” imbuhnya. Di mata Herman, MTL sebenarnya orang baik. “Dia sering ke rumah kok. Orangnya baik,” tuturnya.

MTL hanya dikenal sebagai orang yang tidak bisa direm ketika berbicara di mana pun. Karenanya, dia mengaku cukup kaget ketika mendengar insiden yang melibatkan kader partai yang disebut-sebut sebagai “rumah” warga Nahdliyin itu.

Herman berharap kader partai lain menggunakan kebijaksanaan
berpikir dalam merespon berbagai persoalan, sehingga insiden di Kecamatan Ganding itu tidak terulang lagi, baik untuk di
wilayah Kecamatan Ganding sendiri maupun di Kecamatan
lainnya.

“Mari ke depankan akhlakul karimah, sehingga tidak akan bermunculan persoalan baru lainnya,” harapnya.

Penjara 10 Tahun
Sementara itu Kapolres Sumenep AKBP Rendra Radita Dewayana mengatakan pihaknya sudah mengamankan pelaku pembacokan yang terjadi pada Minggu (15/3) sekitar pukul 15.00 tersebut.

Pelaku berinisial MTL (35) yang merupakan warga Desa Ketawang Larangan, Kecamatan Ganding ini dijerat dengan pasal berlapis yakni Pasal 44 Ayat 2 UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Tindak Pidana KDRT dan Pasal 351 Ayat 2 KUHP tentang penganiayaan.

“Saat ini tersangka sudah diamankan di Mapolres. Ia terancam kurungan penjara selama sepuluh tahun,” terang AKBP Rendra Radita Dewayana, Senin (16/3).

Rendra membeberkan, MTL (35) diketahui telah melakukan
penganiayaan terhadap adik kandungnya sendiri yaitu Gufron
atau biasa dipanggil Moyo (MY).

Ditambahkan, tempat kejadian perkara berawal dari toko milik bibi tersangka Maisurah (MSR) yang juga menjadi korban keberingasan MTL. Kemudian berlanjut ke tepi jalan raya.

“Tersangka membacok korban dengan bertubi-tubi,” ujarnya.

Dan berdasarkan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan penyidikan yang dilakukan petugas, korban ternyata terdapat 5 orang korban.

Selain Gufron, Maisurah dan Qurratul Uyun (OYN), ada juga korban lain Maimunah yang merupakan istri tersangka, dan Abdul Gani yang beraktivitas sebagai pedagang di sekitar lokasi kejadian.

Akibat keberingasan tersangka, para korban mengalami luka berat. Ghufron menderita luka di kepala, telinga kanan, lengan kanan, punggung, dan pergelangan tangan kiri putus.

Sedang Maisurah menderita luka di pergelangan tangan kiri, Maimunah luka di kedua tangan, Qurratul Uyun menderita
luka di jari-jari kanan, dan Abdul Gani menderita luka gores
di pipi.

“Penerapan pasal yang disangkakan bisa saja berkembang
berdasarkan penyidikan lebih lanjut,” ungkap Rendra.

Kesimpulan sementara motif kejadian tersebut adalah permasalahan keluarga. “Ketika tersangka adu mulut dengan istri, adik dan anggota keluarga lain berusaha melerai,” ujar Rendra.

Upaya untuk melerai pertengkaran itulah yang menyebabkan MTL seperti kesetanan dengan membabi buta membacok Gufron.

Barang bukti yang kini diamankan petugas adalah satu sarung korban warna abu-abu dengan berlumuran darah, satu sarung tersangka warna coklat tua yang juga berlumuran darah, satu parang pegangan kayu sepanjang 45 cm, sebilah pisau dapur yang diduga kuat juga digunakan waktu penganiayaan.

Rendra memastikan kejiwaan tersangka akan diperiksa dengan mendatangkan tim dari Polda Jawa Timur sebelum penyidikan dilakukan lebih lanjut.

“Yang jelas, kita kembangkan kasus ini,” tandasnya. (mat/h4d)

Related Search