Achmad Fauzi (Wabup)

Nasionalisme Bola

136 views

Oleh: Achmad Fauzi

Mendengar kata “Madura” pasti yang pertama kali muncul dalam benak orang-orang adalah peci, sarung, karapan sapi, garam, pesantren, dan carok. Atau mungkin lebih parahnya, ada anggapan Madura itu tertutup dan terbelakang.

Namun, melihatnya kini, Madura seolah menjadi kata yang menyedot perhatian dan menawan. Bahkan namanya terus menggema di setiap sudut kota negeri ini.

Apa ada keterkaitan antara nasionalisme dan sepak bola? Jawabannya ada. Terbukti, Madura menjadi hidup karena sepak bola. Lihatlah saat trisula Madura berlaga. Di berbagai belahan pulau garam, suara orang Madura lantang terdengar. Tak penting apakah Persepam itu dari Pamekasan, Perssu dari Sumenep ataupun Madura United yang mewakili Madura di kasta nasional. Mereka bersorak sorai hanya untuk Madura.

Berbicara Madura tempo dulu, seolah nasionalisme serupa barang semu. Bahkan ia hanya terbentuk dalam benak kepala banyak orang, tetapi tak terpatri dalam hati. Melalui sepak bola, nasionalisme itu mulai tertanam, bahkan orang Madura sudah terpatri kokoh. Kemanapun Persepam, Perssu, dan Madura United bertanding, mereka tak pernah melewatkan laganya. Termasuk Madura United, channel televisi yang menyiarkannya tak terganti. Suara-suara Madura pun menggema di balik tribun penonton.

Iya, sepak bola turut memberikan ruang atas terjadinya persaingan antardaerah, antarbangsa maupun antarnegara. Sekadar menyebut contoh, ketika Indonesia berpartisipasi di AFF Suzuki Cup 2010 lalu. Kebetulan atau tidak, merah putih Indonesia mengawali turnamen sekaligus mengakhirinya dengan menghadapi Malaysia. Saat itu, memang tegang, dua negara itu tak ubahnya seperti dua negara tetangga lain di dunia. Saling cela, saling bersaing, saling cemburu. Namun, sebenarnya saling membutuhkan.

Kini, semangat nasionalisme itu kembali terus terpatri. Itu terjadi ketika sepak bola perwakilan Madura, yakni Persepam Madura Utama dan Perssu Madura Utama berlaga di ISC B 2016. Sementara Madura United di kasta lebih tinggi.

Sungguh, ini momentum untuk menghidupkan Madura di luar sana. Agar orang-orang luar Madura itu tidak sepihak menilai Madura. Lewat sepak bola, kita hapus kesan minor, dan ubah stigma itu kesan yang menyenangkan.

Maka dari itu, semua orang yang merasa lahir di tanah Madura, untuk terus mendukung tim kebanggaan Madura tersebut. Tidak ada harapan lagi selain untuk mengenalkan Madura untuk Indonesia melalui bola. Karena Madura itu kaya dan punya potensi untuk unjuk gigi. Maka harapan besar kita, kualitas sepak bola Madura harus terus ditingkatkan untuk Madura jaya.

Kita semua berharap, ekspresi kultural yang melahirkan ungkapan “oreng daddi taretan” itu masih terpatri kokoh. Karena trisula Madura tidak hanya soal main atau kalah dan menang. Tetapi soal ekspresi kultural yang mereka tunjukkan.

Bagi warga Madura, trisula Madura ada taretan tibi’. Sebab bagi masyarakat Madura orang yang sama sekali tidak mempunyai ikatan atau hubungan baik secara genealogis maupun melalui institusi perkawinan dapat juga dianggap sebagai kerabat.

Implementasi dari hubungan sosial semacam ini, orang Madura tidak akan segan-segan melakukan apa saja (kalau perlu nyawa pun akan diserahkan) untuk menjaga tetap terpeliharanya relasi sosial yang telah terjalin itu. Sebaliknya, jika terjadi pelecehan harga diri sehingga orang Madura merasa malu maka yang terjadi adalah perlawanan amat keras sekaligus hancurnya hubungan sosial yang telah dibangun itu. Wallahua’lam. (*)

 

Related Search