ILUSTRASI.KM/IST

Nilai Pendidikan dalam Puasa

505 views

KORANKABAR.COM-Kata Shaum merupakan bentuk masdar dari kata shama yang dikontruksi dari tiga huruf: shad, alif, mim. Seluruh derivasi tersebut memiliki makna menahan diri, berhenti dan tidak bergerak baik dalam bentuk kegiatan fisik maupun non fisik serta baik dilakukan oleh manusia maupun makhluk lainnya, seperti binatang atau kendaraan. Karena itu motor yang mogok baik karena bensinnya habis atau karena mesinnya rusak disebut motor yang berpuasa (al-darajah al-sha’imah) atau anak kecil yang mogok makan karena makanannya tidak enak disebut anak yang berpuasa.

 

Dalam bahasa fiqih, puasa didefinisikan dengan menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, bersenggama dan lainnyadari mulai terbit fajar sidiq sampai terbenamnya matahari. Memberhentikan rutinitas makan, minum dan apapun yang halal pada siang hari adalah praktek minimal dari puasa.

Ramadhan, selain sebagai syahru al-maghfirah (bulan ampunan), juga disebut dengan syahru al-tarbiyah(bulan pendidikan) bagi manusia. Dengan kata lain pada bulan ramadhan, manusia dididik agar menjadi orang yang bertaqwa. (QS. Al-Baqarah: 183). Setidaknya ada empat nilai pendidikan yang terkandung dalam ramadhan bisa di lihat dalam beberapa hal; pertama,perintah berpuasa.

Dalam puasa sendiri, mendidik manusia agar menjadi orang yang jujur. Meskipun tidak ada orang yang tahu, seseorang yang berpuasa tetap tidak boleh makan, minum, dan melakukan hal-hal yang dilarang dalam berpuasa. Pada dasarnya seseorang berpuasa atau tidak yang mengetahui hanyalah dirinya sendiri dan Allah swt. Sehingga digambarkan puasa hanya untuk Allah, maka Allah sendiri yang akan memberikan pahalanya. Harapannya, kejujuran orang yang berpuasa tidak hanya pada saat puasa saja, tetapi dalam kehidupan sehari-hari.

Mendidik hawa nafsu

Selain mendidik menjadi manusia jujur, puasa mendidik manusia agar tidak menuruti hawa nafsu. Hawa nafsu yang dimiliki manusia cenderung bersifat negatif. Dalam bahasa Sigmund Freud, hawa nafsu (id) manusia lebih mengedepankan prinsip keinginan semata (pleasure principle). Tidak sedikit manusia yang sebelumnya terhormat, jatuh hanya dikarenakan tidak bisa mengendalikan nafsu. Orang yang seperti ini digambarkan dalam Al-Quran tergolong derajat yang paling rendah. ”Kemudian kami kembalikan manusia dalam keadaan yang serendah-rendahnya. (QS. At-Tin: 5)

Kedua, mendidik manusia agar selalu meningkatkan ilmu pengetahuan. Peristiwa nuzulul quran (turunnya al-Quran), dimana QS. Al-Alaq: 1-5 menjadi ayat yang pertama kali diterima Nabi Muhammad Saw menjadi bukti agar manusia mau belajar. Perintah belajar, yang terkandung dalam kalimah iqra(bacalah) mengandung makna yang sangat mendalam. Melalui membaca, manusia akan memperkaya ilmu pengetahuan yang dimiliki. Dari yang belum tahu menjadi tahu. Dari tidak bisa menjadi bisa.

Ketiga, meningkatkan amal ibadah. Janji Allah, pada bulan ramadhan, amal ibadah seseorang akan dilipatgandakan. Siapa yang tidak mau. Ibarat patokan orang dagang, sedikit modalnya, tetapi untungnya besar. Mengerjakan sholat sunah pada bulan ramadhan dihitung sama dengan shalat fardhu. Orang yang memberikan makan berbuka untuk orang yang berpuasa, pahalanya sama dengan orang yang berpuasa.

Lailatul qadar

Tidak hanya itu, pada bulan ramadhan ada kesempatan yang terjadi setiap tahun, yakni adanya lailatul qadar (malam qadar). Allah melukiskan dalam QS. Al-Qadar: 3, ”malam qadar lebih baik daripada seribu bulan.” Artinya amal ibadah pada malam itu dihitung sama dengan seribu bulan. Kalau dihitung-hitung sekitar delapan puluh empat tahun. Luar biasa. Karena tidak semua orang sekarang ini mencapai umur tersebut. Karenanya sangatlah rugi, jika umat Islam tidak memanfaatkan malam qadar.

Keempat, pada bulan ramadhan, manusia dididik untuk menjadi pribadi yang mau peduli terhadap sesama. Hal ini digambarakan, setiap orang yang berpuasa diwajibkan untuk mengeluarkan zakat fitrah. Selain berfungsi untuk berfungsi mensucikan diri sendiri (tazkiyat al-nafs), juga bermakna agar orang yang berpuasa mempunyai kepedulian terhadap orang-orang yang tidak mampu. Dengan berpuasa, umat Islam akan merasakan bagaimana penderitaan orang-orang miskin yang tidak makan dan minum. Sehingga akan lahir kepekaan untuk saling berbagi bersama.

Tidak hanya zakat fitrah, juga diingatkan untuk mengeluarkan zakat mal (harta benda, termasuk zakat profesi). Meskipun, zakat mal tidak harus dikeluarkan pada bulan ramadhan, setidaknya umat Islam diingatkan untuk mengeluarkan kewajibannya. Selain itu, memberikan infaq dan sadaqah pada bulan ramadhan sangat dianjurkan.

Dari keempat nilai pendidikan dalam ramadhan tergantung manusianya. Ibarat dalam pendidikan ada evaluasi, apakah seseorang mampu lulus dalam ujian atau tidak. Begitu juga dalam ramadhan, juga merupakan ujian bagi umat Islam. Apakah lulus atau tidak. Kalau lulus, maka predikat la’allakum tattaqun(menjadi orang yang bertaqwa) akan menjadi miliknya. Sebaliknya jika tidak, seperti sindiran Nabi Muhammad saw, banyak orang yang berpuasa yang tidak mendapat apa-apa, kecuali haus dan lapar. Wallahua’lam bi al-shawab

10637761_834293596603976_44616700_n

Oleh: Abdurrahman, Aktivis PC PERGUNU Sumenep

 

 

Related Search