KORBAN : Salah satu korban menunjukkan bukti pembayaran untuk naik haji. KM/ABDUL WAHED

Penipuan Berkedok Biro Perjalanan Haji

105 views

 

KORANKABAR.COM(SAMPANG) – Untuk mendapatkan kenyamanan dan kekhusu’an saat melakukan ibadah haji, banyak masyarakat di Kabupaten Sampang berbodong-bondong merogoh gocek dalam-dalam demi kendapatkan kenyaman tersebut, namun hal itu dijadikan momen para oknum yang tidak bertanggung jawab untuk mendapatkan keuntungan berlipat.

Terbaru, berkedok sebagai penyalur jasa perjalanan jamaah haji (Biro Haji) oknum berinisial DH warga di Jalan Pleyang, Kota Sampang melakukan penipuan hingga ratusan juta, salah satu korban atas nama Nizam, 30, warga Desa Ketapang Timur, Kecamatan Ketapang, diimingi menunaikan ibadah haji plus oleh DH sejak 2011 lalu, namun kenyataanya hingga saat ini korban belum mendapatkan panggilan untuk melakukan ibadah haji tersebut.

Informasi yang dihimpun Kabar Madura, dari keluarga korban yang mendaftar ke DH ada tiga orang. Yakni, Misriyah, 40, Misati, 60, dan Slamet 40. Ketiganya merupakan warga Desa Ketapang Timur, Kecamatan Ketapang, Sampang. Korban pertamakali melakukan pembayaran kepada DH pada September tahun 2011.

Setiap orang oleh DH diminta Rp 47.500.000, jadi untuk tiga orang jika diakumulasi mencapai Rp 142.500.000. Janji DH kepada tiga orang akan diberangkatkan pada 2014. Pada 2012 korban menyetor lagi sebesar Rp 30 juta pada bulan April. Sedangkan pada 2013 (27/8) membayar Rp 15 juta. Pada 14 September melakukan pembayaran lagi sebesar Rp 24.500.000.

“Dari uang yang dikumpulkan dari setiap korban kalau ditotal Rp 212 juta hingga akhir 2013 tahun lalu,” kata Nizam.

Ia menambahkan, pihaknya disuruh menambah uang sebesar Rp 30 juta pada 2014. Akan tetapi, setelah melakukan pembayaran tiga orang yang dijanjikan berangkat, sayangnya hanya satu orang yang melakukan pemberangkatan. Yakni, Slamet yang berangkat pada September.

“Dua orang tidak berangkat, yakni Misati dan Misriyah, hanya Slamet yang diberangkatkan, Pada 2015 kiai itu tidak ada kabar,” tambahnya.

lanjut Nizam, tahun ini kiai tersebut memberi kabar jika dua orang akan diberangkatkan. Dengan syarat keduanya menambah uang sebesar Rp 50 juta. Pembayaran dilakukan pada 25 Agustus. pihaknya melakukan pembayaran dnegan materai 6000 yang ditandatangani istri DH inisial (HN).

“Pembayaran pada 2014 sebesar Rp242 juta keseluruhan. Karena satu orang berangkat visa ditentukan Rp 80 juta sisanya Rp162 juta. Rencananya mau saya cabut, tapi kiai itu bilang tidak  bisa, karena pasti berangkat yang dua orang,” jelasnya.

Namun, setelah ditunggu sampai saat ini masih belum ada pemberangkatan. Padahal, pihaknya supaya keluarganya bisa menunaikan ibadah haji sampai menjual ayam, sapid an emasnya. Hal itu dilakukan, karena sudah kenal dnegan DH. Apalagi, DH merupakan kiai yang mempunyai yayasan dan masih family dengan kiai yang memiliki pondok besar di sampang.

“Pemberangkatan pada Agustus kemarin. Berhubung paspornya mati, akhirnya dibuatlah paspor baru. Awalnya bilang Rp 3 juta pembuatan paspor, setelah di Surabaya selesai sehari Rp 5 juta. Karena uangnya kurang saya transfer lewat ATM Rp 2 juta ke rekening istrinya jadi total secara keseluruhan Rp 215 juta uang saya yang belum kembali. Ternyata sampai saat ini tidak ada kabar,” tuturnya.

Sayangnya, DH sulit untuk ditemui. Dihubungi ke lima nomor yang biasa dipakai tidak ada yang aktif. Sampai korban mendatangi kediamannya di Pleyang tidak berhasil, hanya bertemu dengan salah satu guru bernama Arif yang mengajar di yayasan yang dipimpin DH, pihaknya mengatakan bahwa DH keluar kota, pihaknya juga jarang bertemu dengan DH. Padahal kediamannya pas dibelakang rumah DH.

“Pak kiai sedang keluar kota kemarin siang. Saya juga jarang bertemu dengan beliau,” katanya dengan raut curiga.(awe/h4d)

 

Related Search