BELUM UNTUNG: Petani menanam tebu belum mendapatkan keuntungan dari usaha yang mereka jalankan. (KM/DOK.)

Petani Tebu Belum Dapat Keuntungan

1170 views

koranakabar (sumenep)–Rupanya tanaman tebu di Sumenep belum menjanjikan, karena petani tebu belum mendapatkan untung. “Ya, petani kita belum dapat untung,” ucap Kepala Bidang Perkebunan Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Sumenep Nasah Bandi, kemarin.

Dan kebun tebu belum merata, hanya ada di 5 kecamatan, yakni Kecamatan Pragaan (Desa Pragaan Daja, Desa Sentol Laok, Desa Pragaan Laok), Kecamatan Guluk-guluk (Desa Guluk-guluk, Desa Tambuko, Desa Bakeong, Desa Payudan Daleman), Kecamatan Saronggi (Desa Pagar Batu, Desa Langsar, Desa Kebun Dadap Timur, Desa Tanjung, Desa Saronggi), Kecamatan Pasongsongan (Desa Campaka), dan Kecamatan Batuan (Desa Torbang).

Sejak awal garap tebu, petani langsung dibantu bibit. Jika petani mengeluarkan biaya sendiri untuk pengadaan bibit, kata Bandi, untuk satu hektare lahan membutuhkan biaya sebesar Rp 6 juta. “Kalau mengeluarkan biaya sendiri untuk pengadaan bibit, maka hitung-hitungannya petani rugi sebesar tujuh juta lima ratus ribu per hektarenya,” ujar Bandi.

Berdasarkan pertimbangangan belum mendatangkan untung itulah, untuk tahun 2015 ini tidak ada rencana perluasan lahan tebu yang otomatis juga memengaruhi bibit tebu yang dibutuhkan. Dan sejak kebun tebu mulai digarap pada akhir tahun 2013, total luas kebun tebu mencapai 297 hektare dengan jumlah produksi 600 kwintal per panen.

Sebenarnya petani bisa mendapatkan untung banyak jika di Madura ada pabrik gula. Selama ini, jika panen tiba, petani harus mencari pasar keluar daerah untuk menjual tebu, padahal biaya angkut cukup mahal. “Andai pabrik dekat dengan petani, maka petani bisa untung,” ungkap Bandi. Petani harus mengeluarkan biaya tebang dan angkut antara Rp 8 sampai Rp 12 juta. Kalau di Madura ada pabrik gula, maka biaya angkut-tebang itu akan masuk penghasilan. (mat/zis)

Related Search