Moh Subaidi, Ketua Komisi D DPRD Sumenep

Pola Arsip Kacau, Undang Stakeholder

1120 views

KOTA-Sistem penyimpanan arsip di Sumenep dinilai sangat amburadul. Terbukti, arsip dokumen terkait Sumenep 5 tahun lalu saja sudah tidak diketahui keberadaannya. Hal itu dilatarbelakangi lemahnya sistem atau pola penyimpanan arsip di Sumenep.
Ketua Komisi D DPRD Sumenep Moh Subaidi mengakuinya. Bahkan yang sangat ironis, ketika arsip tentang Sumenep nihil. Jangankan arsip yang 40 tahun lalu, yang 5 tahun yang lalu sudah amburadul.
“Makanya kita rencananya akan menyusun dan mengundang pihak terkait untuk bisa mengamankan arsip Sumenep. Yang melatar belakangi kami muncul ide tersebut, karena memang arsip di Sumenep selama ini tidak karuan keberadaannya dan kocar-kacir dan bahkan mungkin sudah entah ada di mana,” tandas Subaidi pada Kabar Madura.
Politisi PPP ini sempat mempertanyakan, apakah arsip sejak pemerintah Sumenep berdiri masih ada, ternyata kenyataannya sudah tidak diketahui keberadaannya. Sehingga soal kearsipan tersebut bisa tertata dengan baik, harus dimulai untuk menyusun arsip dengan baik sehingga ketika dibutuhkan tidak bingung. “Memang soal arsip ini terkesan sepele, tapi ketika dibutuhkan tidak ada, baru terasa betapa pentingnya arsip tersebut,” katanya.
Ketika arsip pemerintahan tidak ada, pihaknya menganggap lucu. Sebab arsip tetap dinilai penting, selain sebagai bukti, juga bisa dijadikan bahan acuan untuk kebijakan pemerintahan ke depan. Sebab pemerintah tidak bisa dilepas dari arsip, arsip juga sebagai bukti sejarah.
“Tidak usah jauh-jauh, arsip di dewan kita sendiri ini juga dipertanyakan penataannya. Mungkin arsip kita yang 5 tahun lalu sudah tidak diketahui ada dimana. 5 tahun itu tidak lama dan akan terasa lama jika tidak ada arsipnya karena akan kebingungan ketika kita butuhkan sebagai bahan acuan. Jadi kalau bicara asrsip, kami yakin arsip semua SKPD juga amburadul,” tukasnya.
Ia menilai, ketika arsip tidak ada dan dihadapkan pada persoalan yang harus membutuhkan pembuktiannya melalui arsip. Maka apapun yang terjadi, ketika ada pembuktiannya ketika dihadapkan pada hal apapun, tetap dinilai salah dan kalah. “Siapa tahu akan dihadapkan dengan persoalan hukum,” imbuhnya. (ong/zis)

Related Search