Berpotensi Hadir ‘Kursi’ Pesanan

754 views

KORANKABAR (PAMEKASAN)-Dengan jumlah pagu siswa yang dikurangi pada setiap sekolah negeri tingkat menengah, berpotensi pada kerawanan dalam penerimaan siswa baru. Yaitu, persaingan ketat untuk masuk sekolah favorit dapat muncul penyimpangan. Atau yang kerap disebut dengan munculnya ‘kursi’ pesanan.

Sebagaimana diungkapkan Ketua Komisi IV DPRD Pamekasan Apik. Dengan fenomena itu, terangnya, kerawanan harus segera diantisipasi oleh Dinas Pendidikan (Disdik) Pamekasan. Untuk menghadang munculnya pesanan ‘kursi’, harus memperketat pola pengawasan, dalam proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) reguler tahun 2015 ini.

Sebab, pengurangan kuota membuat siswa harus berebut jatah masuk sekolah negeri. Di Pamekasan, sekolah bermutu dan berbiaya murah masih didominasi sekolah negeri. Saat ini, beberapa sekolah sudah menerima penerimaan siswa unggulan. Namun, kuotanya tidak besar dibandingkan sistem PPDB reguler yang akan diterapkan bulan depan.

Menurut Apik, Disdik Pamekasan mesti bisa menyiapkan sistem penerimaan siswa baru kepada setiap sekolah untuk lebih transparan. Utamanya, dalam proses seleksi seleksinya. Sebab, bukan kebiasaan baru jika setiap tahun selalu muncul protes dari wali calon siswa yang menilai PPDB sarat dengan kongkalikong.

Selain mengenai transparansi seleksi, Disdik Pamekasan juga diminta untuk membuat calon siswa sadar bahwa pagu siswa sudah dikurangi dan diatur berdasarkan kemampuan daya tampung. Jika konsekuensinya tidak diterima di sekolah tersebut, harus dengan legawa memilih sekolah lainnya.

“Kalau Disdik bisa mewaspadai dari awal, saya yakin praktik jual-beli kursi pesanan tidak akan kita dengar lagi. Tahun ini, persaingan bakal semakin ketat. Jadi Disdik harus memperketat pengawasan dalam proses seleksi siswa baru,” tegas Apik.

Kendati demikian, menurut Apik, pengurangan pagu tersebut, berdampak baik apda pemerataan siswa ke semua wilayah. Apalagi, banyak fenomena di sekolah yang jumlah siswanya tidak mencapai standar minimum atau sebanyak 20 siswa. Kondisi itu masih terjadi di sekolah negeri maupun swasta di daerah-daerah terpencil.

“Semua bisa berdampak baik dan buruk. Dampak baiknya, dengan pengurangan pagu bisa berdampak pada pemerataan siswa. Jadi untuk sekolah yang tidak begitu diminati, momen ini bisa jadi peluang,” tandasnya.

Terpisah, Kepala Disdik Pamekasan Yusuf Suhartono mengaku, sistem yang akan digunakan dalam seleksi PPDB reguler tahun 2015 tetap menggunakan pembobotan nilai ujian nasional (Unas). Kendati, rumusan PPDB-nya belum dibuat secara rinci. Kebijakan pengurangan kuota itu adalah, jumlah minimum satu rombongen belajar (rombel/kelas) yang sebelumnya berjumlah 36 menjadi 32 siswa.

“Mengenai detil bagaimana penerimaan siswa barunya, belum kami rumuskan. Kemungkinan seleksinya tetap dengan sistem pembobotan dan diprioritaskan untuk siswa asal Pamekasan seperti tahun lalu,” tukas Yusuf. (waw/anm)

Related Search