Maniri

Ramadan, Sejarah dan Momentum Kebangkitan

416 views

INDONESIA saat ini berada dalam kondisi yang stagnan. Aktifitas hampir semua sektor belum menunjukkan tanda-tanda membaik.

Sektor ekonomi misalnya, terus melemah baik dari nilai tukar rupiah terhadap dolar maupun angka inflasi yang terus meningkat. Di sektor penegakan hukum, Indonesia terus dilanda gejolak yang tentu mempengaruhi gairah dan sistem kerja.

Dua sektor yang tidak kalah penting untuk diselesaikan adalah sektor kemanusiaan dan kemiskinan, yang sampai detik ini masih memprihatinkan. Ini artinya, Indonesia belum mampu bangkit dari masalah-masalah klasik.

Pada hakikatnya Ramadan kali ini menjadi momentum untuk Indonesia melakukan evaluasi dan perbaikan di segala lini yang stagnan.

Terlebih di lini kemanusiaan dan ekonomi karena Ramadan  adalah manifestasi kebangkitan kemanusiaan dan kesejahteraan.

Mengapa Ramadan menjadi momentum kebangkitan? Karena bulan ini dipandang sebagai sentral dari segala aktivitas ekonomi di negara manapun termasuk Indonesia.

Logikanya karena angka konsumsi pada bulan Ramadan sangat tinggi yang akan menyebabkan gejolak pasar hampir di seluruh Indonesia. Termasuk, keadaan terburuk adalah harga kebutuhan pokok di pasaran akan menyentuh level tertinggi.

Melihat realitas ini, berarti Ramadan juga berfungsi sebagai alat ukur sejauh mana Indonesia keluar dari tekanan-tekanan di segala sektor tadi, termasuk adalah sektor ekonomi.

Simpelnya, bila pada Ramadan ini Indonesia setidaknya mampu mempertahankan harga sejumlah kebutuhan pokok, maka ini adalah tanda positif bahwa kedepan Indonesia akan bagus. Dan bila sebaliknya, maka kemungkinan besar Indonesia tetap menyandang status stagnan di segala sektor.

Ramadan dan Peristiwa Kebangkitan

Potret sejarah Islam memberikan sebuah kenyataan bahwa Ramadan bukanlah bulan “kelemahan”. Dalam napak tilas sejarahnya, Ramadan menjadi energi bagi umat Islam untuk bangkit dari keterpurukan. Peristiwa kebangkitan Islam justru banyak terjadi pada bulan Ramadan.

Pada Ramadan, Allah SWT menurunkan Alquran, yang merupakan rujukan dan referensi dari segala amal dan tindak tanduk langkah manusia.

Alquran adalah asas, undang-undang, haluan kerja manusia sehingga dari Alquran ini Rasulullah mampu membangun sendi-sendi negara Islam pertama yang melindungi umat manusia semua.

Dengan Alquran, Rasulullah berhasil membangun negara yang heterogen, plural, majemuk tanpa membeda-bedakan tarah atau golongan, warna kulit. Semua mempunyai hak yang sama sebagai warga negara.

Dasar paling logis diturunkannya Alquran pada bulan Ramadan karena merupakan bulan kasih sayang, bulan keberkahan, bulan di mana perbedaan strata sosial, kelas ekonomi tidak menjadi perbedaan kedudukan karena kondisi semua manusia harus “lapar” dimana istilah ini identik dengan “kemiskinan”.

Dalam sebuah hadist Rasulullah bersabda; “Puasa Ramadan adalah bulan dimana pada hari ini kalian semua sama-sama berpuasa (lapar)  dan Idul Fitri adalah Hari dimana kalian semua bersama-sama merayakan Idul Fitri (bergembira)”.

Peristiwa agung yang terjadi pada bulan Ramadan selanjutnya adalah perang Badar. Sebuah perang antara Kaum Musyrik Mekah dengan Umat Islam Yasrib yang dipimpin Rasulullah.

Dalam rekaman sejarah, sejatinya Perang Badar ini tidak hanya mampu menjadikan Agama Islam semakin mulia di tanah arab saat itu, tetapi Perang Badar adalah perang yang membuka kebangkitan Umat Islam di semua sektor sebagai sebuah bangsa.

Mencermati realita sejarah Perang Badar yang terjadi pada bulan puasa, memberikan fakta terbalik yang menyatakan Ramadan adalah hari “kelemahan.

” Namun justru yang terjadi Rasulullah acap kali melakukan sebuah aksi penting yang menyangkut umat Islam pada saat Ramadan.

Di sisi lain Pembukaan kota Mekah benar-benar menghancurkan kepongahan Bangsa Qurays karena pada saat itu Abu Sufyan yang merupakan pemimpin Qurays terakhir di Makkah harus masuk Islam saat dirinya tidak punya pilihan di bawah kepungan tentara Islam.

Pada kisaran 7 Abad Masehi Thariq bin Ziyad pada tanggal 27 Ramadan memimpin kaum Muslimin menuju Andalusia melewati jalur laut. Konon pembebasan Andalusia yang terpusat di Grenada ini menjadi titik awal meluasnya Islam dan Pemerintahan Islam di tanah-tanah Eropa.

Pembebasan ini dilakukan oleh Thariq pada Ramadan seraya dia berharap keberkahan dari bulan suci dan diberikan kemenangan.

Dalam catatan sejarah Islam, pasukan Thariq bin Ziyaq tidak satupun yang membatalkan puasa pada masa-masa invansi Andalusia.

Dalam sejarah-sejarah perang yang dilakukan Orang Islam melawan Mongolia, bisa dikatakan Islam  jarang sekali mendapatkan kemenangan saat melawan tentara-tentara Mongol.

Setiap kali Islam menghadapi pasukan mongol maka acap kali pasukan Islam mendapatkan kekalahan yang sangat menyedihkan hingga pada akhirnya perang Ain Jalut pecah.

Perang ini terjadi di daerah dekat Nablus di Palestina, adalah Quthus yang merupakan panglima perang Islam yang mengambil keputusan bulat untuk menghadapi tentara Mongol pada bulan Ramadan.

Peperangan ini adalah peperangan yang sangat berarti dan penting bagi orang-orang Islam, karena perang  yang terjadi pada tanggal 15 Ramadan ini dicatat sebagai kemenangan perang pertama pasukan Islam melawan Mongol.

Selain peristiwa-peristiwa agung yang terjadi pada Ramadan, suatu hal yang sangat bermakna dan penting dalam kehidupan Muslim Indonesia adalah bahwa Proklamasi yang merupakan perwujudan bahwa Indonesia adalah bangsa merdeka terjadi pada 17 Agustus 1945 yang saat itu bertepatan dengan 9 Ramadan 1364 H.

Pemilihan bulan Ramadan sebagai momentum proklamasi bukan tanpa alasan, selain karena memang takdir sejarah menuntun Indonesia terbebas dari penjajahan pada bulan Ramadan, di samping itu ulama-ulama yang menjadi “penasihat” Presiden Soekarno saat itu memberikan arahan agar memilih Ramadan sebagai waktu memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. (*)

 Oleh : Maniri,S.Pd

Pengurus Pondok Pesantren Miftahul Ulum Karang Durin

Desa Tlambah, Kecamatan Karangpenang, Sampang

 

Related Search