MENGENASKAN:Salah satu hutan kota milik Dinas Perhutanan dan Perkebunan di Kelurahan Dalpenang terlihat kurang terawat.KM/DOK

Sampang Alami Krisis Hutan Kota

429 views

KORANKABAR.COM (SAMPANG)- Dari 14 kecamatan, hanya Kecamatan Sampang yang saat ini memiliki hutan. Kondisi tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan, di mana setiap wilayah kecamatan, harus mempunyai minimal 10 persen untuk hutan kota.

Kepala Dinas Perhutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Sampang Singgih Bektiono melalui Kasi Konservasi Tanah Novi Indrawati mengakui, luas hutan kota masih belum memenuhi standar kebutuhan. Salah satunya huta kota di kecamatan Sampang yang luasannya masih kurang sekitar 65 hektar.

“Untuk kebutuhan luas hutan di Kecamatan Sampang sekitar 70 hektar, sementara hutan kota yang ada saat ini masih 5 hektar,” ungkapnya.

Kata Novi, pihaknya bukan sengaja ingin membiarkan kondisi kekurangan tersebut. Namun, mengaku kesulitan mencari lahan untuk dijadikan lahan kota. Apalagi, sebagian warga kurang berminat ketika lahannya ingin dijadikan hutan kota.

“Kami terkendala dan kesulitan mencari lahan untuk dijadikan hutan kota. Rata-rata warga yang kami tawarkan kurang minat jika lahannya ingin dijadikan hutan kota,” jelasnya.

Kondisi yang paling memperihatinkan, lanjut Novi. Dari 14 kecamatan hanya Kecamatan Sampang yang memiliki hutan kota. Meski demikian, Ia mengaku sudah coba berupaya untuk mengembangkan hutan kota di Kecamatan Karangpenang.

“Saat ini masih di kecamatan kota saja yang memiliki hutan kota, kecamatan lainnya masih dalam tahap sosialisasi,” ulasnya.

Ditambahkan, selain terkenda lahan, persoalan pengembangan hutan kota juga karena tingkat kesadaran dari masyarakat masih rendah. Terbukti, ketika dari sekian penawaran banyak yang menolak dan mengurungkan niat ketika lahannya ingin dijadikan hutan kota.

“warga yang menolak ketika lahannya ingin dijadikan hutan kota karena berasalan jangka waktu kerja samanya terlalu lama yakni sampai 15 tahun. Karena kesulitan, jadi sementara menggunakan lahan aset milik Pemkab Sampang,” tukasnya. (mam/waw)

 

Related Search