Tabri S Munir Wartawan Olah Raga Kabar Madura

Siapkah Stadion Pamekasan Menggelar Pertandingan TSC?

Tabri S Munir
Wartawan Olah Raga Kabar Madura

Catatan ini, sedikit banyak saya sarikan dari pelaksanaan Focus Grup Discusion (FGD) yang digelar oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Pamekasan dan juga beberapa pengalaman liputan di beberapa stadion di seluruh Indonesia.
Stadion Pamekasan, menjadi stadion kedua setelah Stadion Gelora Bangkalan (SGB) di Pulau Madura yang memiliki lampu sorot sehingga bisa menggelar pertandingan malam. Stadion yang dibangun Pemkab Pamekasan setelah menabung sejak 2008 lalu tersebut saat sudah berdiri megah dan beberapa waktu lalu juga dilakukan ujicoba lampu sorotnya.
Bagaimana setelah stadion yang dibangun dengan mengeratkan ikat pinggang keuangan APBD Pamekasan tersebut bermanfaat bagi Pamekasan?
Jawabannya, adalah fungsikan stadion tersebut untuk sarana aktivitas warga Pamekasan. Sebab, dengan adanya aktivitas di stadion tersebut, maka roda ekonomi akan berputar. Jangan biarkan uang warga Pamekasan lari ke luar Madura, karena itu sama saja dengan memiskinkan Pamekasan yang nota bene minim Sumber Daya Alam Mineral sebagaimana Kabupaten lain.
Pembangunan Stadion sebagai induk dari sport center Pamekasan memang sangat menguntungkan bagi pengelolanya. Sebab, selain pertandingan sepak bola, terdapat beberapa kegiatan lain yang bisa digelar di Sport Center. Sebutlah agenda terdekat, road race yang akan digelar pada 13 November nanti. Agenda tahunan IMI tersebut menjadi salah satu sarana untuk menggerakkan warga beraktivitas di Pamekasan.
Terlepas dari beberapa cabang olahraga lainnya yang bisa dilaksanakan di Sport Center tersebut, sepakbola memang masih menjadi magnet terbesar dari pembangunan stadion tersebut. Seberapa miliar uang dikeluarkan untuk membangun lapangan pertandingan sepakbola di dalam stadion, adalah bukti bahwa sepakbola menjadi prioritas utama dari pembangunan sport center tersebut.
Menggelar pertandingan sepakbola, bagi penggiat sepakbola yang ada di Askab PSSI Pamekasan mungkin hal biasa. Sebab, di Pamekasan sendiri terdapat beberapa orang yang memiliki sertifikasi sebagai Wasit Nasional dan Pengawas Pertandingan nasional. Bahkan, di Pamekasan juga terdapat beberapa mantan pemain sepakbolla professional yang pernah mentas di kasta tertinggi sepakola Indonesia. Sebut saja, Hamzah Saleh dan Anis Fuad.
Namun, bisakah mereka menggelar pertandingan skala nasional untuk pertandingan TSC?. Untuk konteks ini, penulis masih harus banyak bertanya-tanya dalam otak saja. Oleh karenanya, saya terpaksa menulis ini agar bisa menjadi bahan bagi pihak-pihak yang berkepentingan untuk mempersiapkan diri.
Pertama, dari sisi SDM, setiap pertandingan TSC yang digelar secara live, terdapat Local General Cordinator (LGC) yang mengatur seluruh aktivitas pertandingan. Menit permenit dari pemain harus masuk stadion, menjadi tugas LGC. Kordinasi dengan Hoast Broadcasting juga menjadi tugas LGC. Nah, masalahnya, sepengetahuan penulis, baru Ziaul Haq, warga Pamekasan yang sudah tersertifikasi sebagai LGC. Sayangnya, pria berdarah Arab tersebut menegaskan bahwa tidak mungkin lagi bertugas sebagai LGC karena tugasnya sebagai Direktur Utama PT PBMB.
Selain LGC, juga terdapat Media Officer, Marketing Officer dan Securiity Officer yang harus bersertifikasi. Untungnya, empat orang tersebut menjadi tanggungjawab klub untuk mempersiapkan SDMnya. Sehingga, jika memang tidak ada orang yang memiliki sertifikasi tersebut, bisa mendatangkan dari daerah lain.
Urusan SDM memang bisa disiasati. Namun, bagaimana dengan urusan fasilitas stadion sehingga dianggap layak untuk menggelar pertandingan TSC yang disiarkan langsung?. Sebab, untuk bisa menggelar pertandingan TSC bukan hanya Lapangan, Tribun dan Lampu yang harus dipersiapkan. Dalam manual TSC, terdapat 8 ruangan yang harus disediakan dengan perlengkapan yang juga diatur jelas. Misal, ruang ganti pemain harus terdapat AC, minimal 25 kursi dan Loker Room, dan juga kamar kecil lengkap dengan airnya.
Penulis sempat mendampingi Verifikator Venue Manajer GTS pada masa persiapan TSC, salah satu rekomendasi dari kamar ganti pemain adalah “Berikan teralis penutup sebagai pemisah tangga ke tribun utama dengan ruang ganti pemain. Karena ruang ganti pemain menggunakan jendela kaca dan itu sangat membahayakan bagi psikologis pemain,”. Nah, kemarin saya sempat melihat ruangan tersebut dan memang belum ada perubahan berdasar rekomendasi dari verifikator GTS.
Selain ruang ganti, satu hal yang harus diperhatikan oleh pengelola stadion, adalah ruang presconferensi dan control room hoast broadcaster. Ruang prescoferensi, dalam prosesi pertandingan TSC menjadi ruangan utama yang wajib tersebut. Sebab, jika ruangan tersebut tidak tersedia, maka otomatis stadion tersebut dinyatakan tidak layak. Itulah sebabnya, di SGB harus disulap sedemikia rupa agar tersedia ruang presconferensi sebagaimana di lantai 2 saat ini. (bersambung)

Related Search